Pages

Jadilah Wanita Yang Paling Bahagia

Wednesday, October 26, 2011

Apa lagi yang tak cukup???

A for Allah
Ba' for Bismillah
Ta' for taqwa

SubhanAllah. Alhamdulillah Allahuakbar!


MashaAllah... dunia ini penuh dengan kekejaman, setelah pelbagai kes dipaparkan di akhbar cukup memberi impak yang maksima kepada sesiapa yang membaca... apakah tiada lagi perikemanusian di dunia ini, apakah Allah pernah bertindak kejam terhadap umat nabi Muhammad???, walaupun kita semua menderhakai Allah tetapi Allah tetap menaburkan kasih dan sayang Nya.. tetapi kenapa manusia kini seolah olah menaganggap dunia ini mereka yang punya dan seolah-olah dunia akan selamanya tempat mereka bermaharajalela, sedarlah diakhir nnt pasti ada perhitungan yang muktamad, pasti kita semua akan diadili dengan adil....

jika direview kembali selepas satu persatu kes2 yang amat menyayat hati kita... dimulai dgn kes adik shalini, kemudian pembunuhan sosilawati, diikuti dgn mangsa2 rogol yang tidak pernah mendapat keadilan, disusuli pula dengan mangsa 7 tahun dirogol oleh pelajar 10tahun... dan baru2 ini dikejutkan dengan pembunuhan kejam muammar ghadaffi...

apakah yang sebenarnya berlaku terhadap dunia yang memang tiada lagi keamanan... kalaupun ada diantara mereka yang bersalah tidak perlu menghukum mereka sebegitu kerana semua manusia membuat silap, tiada yang maksum, eventho Nabi Muhammad maksum, Nabi tak pernah bertindak menyiksa tahanan sebegitu, islam cukup syumul dan adil kenapa diketepikan hukum islam??? kalaupun seseorg itu kafir, islam tidak pernah menyuruh kita bertindak begitu, memukul,menembak,mengheret... sedang melaungkan takbir.. apakah yang mereka semua fikirkan? adakah kerana marah atau kerana Allah??? marah sifat syaitan... jika keran nafsu amarah kalian nescaya ianya datang dari syaitan.. percaya lah syaitan tidak akan pernah letih untuk mengucar kacirkan umat akhir zaman kerana ini adalah peluang terakhir si laknatullah itu membuat kerja walaupun mereka tahu mereka tatap akan diseksa sampai bila-bila....

Allah itu Maha pengampun, adakah kita perlu "treat" orang lain dengan kejam? kenapa kita tak mengikut contoh atau meniru apa yang telah Allah lorongkan untuk kita??? kenapa kita masih di dalam keseronokkan dunia yang fana ini??? ingatlah wahai hamba-hamba Allah, tentang ayat "aku tidak jadikan manusia dan jin itu melainkan untuk beribadat kepadaKu"... apakah tujuan kita hidup di dunia ini? makan,kerja, tidur? pengakhiran hidup? dimana kita khusnul khatimah atau su'ul khatimah... apa yang Allah telah tetapkan ikut sahaja, jangan memandai-mandai ubah dan tambah atau kurangkan...

Thursday, August 25, 2011

ikhwah jatuh cinta saat akhwat berbicara

Artikel yang menurut saya bagus. Meski temanya klasik tapi menarik untuk dibaca karena dari sudut pandang akhwat dan bisa jadi renungan kita. Yah.. selama ini kan akhwat cenderung diam kalo udah masuk ke wilayah cinta. Di saat makin banyaknya aktivis-aktivis dakwah yang sudah kebablasan dalam hal cinta. Menjajakan cinta atas nama dakwah. (afwan Sebenarnya rada sarkas juga sih pemilihan katanya, tapi mesti gimana lagi penggambarannya? susah klo mo pake istilah laen, lagian kita sering nggak ngeh kalo penyebutannya terlalu biasa).

Soalnya kebanyakan (saya nggak bilang semua lho…,) aktivis dakwah sering TP TP sama lawan jenisnya. Itu bisa dilihat ketika dia sering TP TP lewat fasihnya kata-kata, luasnya ilmu, lewat indahnya untaian nasihat, lewat merdunya suara, dkk. Yang jelas motivasinya secara tidak disadari melenceng jadinya, sayang banget khan? Mungkin dan sangat bisa jadi kita pengumbar nafsu. Wah gimana donk?! Maunya show amal dengan fatwa-fatwa agama ke orang lain, eh gak taunya nyari muka, aduuuh sayang banget yak?! Maunya sih kasih comment di FS dengan taushiyah,nggak taunya??? Biar dianggep paling mantep ruhiyahnya.

Hohoho… ini kenyataan lho.. saya sering iseng2 chek comment2 FS “aktivis dakwah”.. yaahh.. lihat aja dari fotonya.. biasanya siy yang ikhwan kalo nggak tampang sholehnya yang dipajang yaa.. gambar mujahid Palestine, atau orang pake sorban (kafiyeh) dengan muka sebagian ditutup. Liat dari gambarnya siy waah.. subhanallah… Militan negh kayaknya! profilenya juga.. mulai dari puisi tentang dakwah, aktiivitasnya dakwahnya yang segambreng, sampe kata-kata mutiara yang bisa bangkitin ghiroh! Tapi pas liat commentnya… hihi… rata2 yang ngisi akhwat.. dengan kata-kata romantis pula..Beberapa contohnya,

“syukron akhi atas tausyiahnya. . jangan bosen-bosen ingetin ana yah…”

(hihi.. nggak ada akhwat yang ingetin anti ya ukh…?)

“Salam.. Lama nggak silaturahim, .. gimana kabarnya? Sekarang kegiatannya apa?”

(penting gitu? Siapa eloe?!)

“Add ana aja akh.. biar nambah ukhuwah… ini alamatnya……, atau kalo mau chating ini alamat YM ana…” (hadooohh… MR-nya nggak marah tuh ukh?!)

Hehe.. masih banyak lagi dah yang laennya.. di FS akhwat juga nggak jauh beda.. biasanya dengan foto kartun bergambar akhwat, kemudian ngeliat profilenya yang lebih mirip biodata untuk taaruf, sampe puisi-puisi cinta.. (haddooohh…) comment2nya pun nggak kalah vulgar dengan yang di atas… cuma bedanya yang ngirimin ya ikhwan… hohoho…. pernah saya iseng sekali2 comment ke akhwat tsb.. “hihihi… gile bener…!!! ikhwan semua tuh yang comment ukh! Mesra-mesra pula lagi! Kenapa nggak sekalian aja ajak taaruf… terus temen2 akhwatnya mana tuh ukh… lagi marahan yah? Sebenernya siapa yang salah ya? Hohoho…”

Ya Allah… begitu halusnya… hingga kita tak menyadarinya. Jangan-jangan saya dan kita mungkin sudah terjebak dalam permainan setan ini?! lambat laun karena tidak sadar, akhirnya kita telah jadi korban.

Tanpa bermaksud menuduh siapapun, tulisan ini tentunya tidak harus membuat kita berhenti terpaku tuk meneruskan berbuat kebaikan, saling menasehati, bertausyiah, berfastabiqul khoirot. Karena berhenti dan sesuatu harus bersandar pada Allah SWT. Namun sangatlah bijak, jika kita mau berhenti sejenak menengok ke dalam relung hati kita yang paling dalam, sudah luruskah niat kita? adakah benih karat yang mencoba menggerogoti? Kenapa tausyiah kita hanya kepada lawan jenis? Padahal masih banyak saudara2 kita sesama jenis yang butuh nasihat kita. Niat & keikhlasan seutuhnya adalah urusan makhluk dengan sang Kholik langsung, manusia lain manapun tidak mampu menilainya. Jika belum lurus, mari kita sama-sama luruskan. Jika merasa berat meluruskannya, mari sama-sama berdo’a semoga Allah memberikan kekuatan lebih dan senantiasa menjauhkan kita dari keterpedayaan. Selamat membaca artikel singkat di bawah ini.

-Farizal-

Ketika Ikhwah Harus Jatuh Cinta

Akhwat Berbicara…

Frens fillah…izinkan ane bercerita. Dalam kisah ini ane memakai sudut pandang orang pertama tunggal (aku, saya, ane, gue, whatever!), alurnya bolak-balik (alias semau ane). Ending terserah ente. Dan settingnya di sebuah medan bernama medan dakwah. Di sana penuh dengan cobaan, ujian, onak, duri, aral melintang sampai romantisme perjuangan.

Mengapa romantisme? Karena ane rasa di stasiun-stasiun perjalanan, di setiap sendi kehidupan, di setiap makhluk yang bernyawa (terutama manusia), yang di dalamnya ada segumpal daging yang disebut hati, di hati itu ada rasa. Rasa itu berwujud cinta. Cinta itu fitrah! Cinta itu anugerah! Yang jika benar menempatkannya, akan berakhir bahagia. Dan jika salah penempatannya, maka akan berujung malapetaka.

Yah.. cinta. Tak pernah bosan untuk dibahas. Sesuatu yang diulang, dan akan terus berulang. Dari zaman nenek moyang (bapak Adam dan Ibunda Hawa) sampai akhir zaman. Manusia yang tengah merasakannya bisa lupa waktu, lupa diri, lupa makan, bahkan lupa ingatan! (ck..ck..the power of love). Afwan, ane bukan seorang pujangga apalagi pakar cinta. Tapi (katanya) kekuatan cintalah yang menjadikan seseorang mendadak puitis, mendadak kreatif, mendadak inovatif, mendadak solutif, dan mendadak dangdut (lho?! He..he..af1 jiddan). Ane akan coba fokus. Ane gak akan membahas tentang cinta. Apa itu cinta, untuk siapa cinta itu diberikan, dan lain sebagainya. insyaAllah akan ana bahas di lain kesempatan. Dengan topik dan judul yang berbeda tentunya.

Oh ya… Izinkan juga ana bicara dari hati seorang wanita (bukan berarti mewakili kaum hawa keseluruhan) ini murni dari suara hati ane pribadi, so jangan men”generalisasi”kan pada semua akhwat. Kalo mau protes ke ane aja, otre?!)

Fenomena ini mungkin terjadi hampir di setiap medan dakwah. Pokoknya ada aktivis dakwahnya, ADS (Aktivis Dakwah Sekolah) maupun ADK (Aktivis Dakwah Kampus/kampung) . Pemerannya adalah akhwat en ikhwan. Keduanya adalah partner yang saling berkoordinasi dalam dakwah. Banyak sekali artikel dan buku yang telah membahasnya. Seminar, dauroh, sampai kajian liqo-pun membicarakannya. Gimana kalao ikhwah jatuh cinta? Hmmmm…. wajar tuh! Fitrah koq! Normal ih! (oke-oke… peace man!) dari ikhwah yang militan sampai yang meletan, semua berpeluang merasakannya. Yang jelas jatuh cinta ala ikhwah gak sama dengan orang ammah. (af1, maksud ane ikhwah di sini yang tingkat pemahaman keislamannya lebih -sedikit atau banyak- dibandingkan orang ammah/awam). Kalo yang ngakunya ikhwah (ikhwan or akhwat), cara mengelola, memanaj, dan menyikapi, seharusnya, lebih bijak, lebih hati-hati, lebih terkontrol, tanpa harus mengikuti dorongan nafsu dan masih dalam koridor-koridor syar’i (warning! Harap dibedakan dengan ikhwah yang “bermasalah” ato “error”, kasusnya beda lagi).

Selain cara menyikapinya, cobaan dan ujiannya juga beda. Tentunya syaitan pengujinya juga selevel dengan kualitas yang diuji. Sebagai aktivis yang menyeru ke jalan Allah, ber-amar ma’ruf nahi munkar, godaannya lebih berat lagi. Gimana nggak? Wong aktivis dakwah sholatnya tepat waktu dan berjama’ah di masjid, tilawahnya 1 juz perhari, diamnya dzikir, ma’sturat pagi-petang, qiyamullail, rawatib, en dhuha nggak pernah ketinggalan, amalan-amalan sunnah yang lain pun tetap jalan, bacaannya yang berbau islam, hadirnya ke majelis ilmu dan majelis dzikir, hidupnya hanya untuk dakwah dan jihad fisabilillah… ck…ck….syetan cs pada kualahan tuh! Syuro nya jadi lebih giat buat ngatur strategi jitu.

Tapi yang namanya syetan gak akan kehabisan akal (emang syetan punya akal???!!!) dia punya 1001 (bahkan beribu-ribu) cara untuk memasuki celah-celah yang menjadi peluang baginya. For example, dari hasil nguping pembicaraan manusia, syetan dapet bocoran kalo cinta itu datangnya dari mata turun ke hati. Akhirnya ia berusaha menggoda aktivis dakwah dari matanya (pandangannya) , banyak juga sih yang berjatuhan akibat ulahnya ini. Tapi godaan ini gak mempan, gak ngaruh, en ga ngefek bagi aktivis yang ghodul bashar (menjaga pandangan). Kemudian syetan dkk mengambil cara lain. Sms-sms bernada dakwahpun menyebar. Dari paket taujih, bangunin qiyamullail, nanya kabar, lagi ngapain? Udah makan ato belum? Met ultah yaaa (gubrak! Mang siapa lu, siapa gue???!)

Nggak sampe di situ, syaitan juga semakin canggih mengikuti perkembangan IPTEK. Syetan yang udah lulus kuliah di jurusan teknik informatika membuat program-program khusus di internet dan menyebarkan virus-virus aneh ke computer hati para aktivis dakwah. Yang gak punya komputer pribadi penyebaran virusnya bisa lewat flash disk, CD room, kabel data, disket dan lain-lain (nyambung gak seh? Ya disambung-sambungin aja ya!). berbagai fasilitas di dunia maya telah disajikan. Mulai via email, chatting, fs dengan testinya, sampai sebuah situs yang memfasilitasi para netter agar bisa berinteraksi dan memiliki komunitas sambil menampilkan foto dirinya. Semua hadir di tengah kita untuk memudahkan komunikasi. Fasilitas ini pula yang dimanfaatkan aktivis dakwah untuk bersilaturrahmi, sharring pengetahuan, diskusi dakwah, menjalin ukhuwah, dsb. Dst. Ada juga yang niatnya mencari pasangan hidup. (Itu mah kembali ke diri sendiri. Mau pake jalur “swasta” [nyari sendiri] ato jalur “negeri” [lewat murabbi] yang jelas keberkahan harus tetap dijaga. Saran ane, senantiasa luruskan niat! Di awal, di tengah, sampai akhir).

Nah, dari komunikasi dunia maya itu, ada yang memberitahukan identitas diri, ada pula yang tidak, bahkan ada yang menyembunyikannya dengan berbohong. Astaghfirullah… .namanya juga dunia maya, dunia gak jelas! Awalnya mungkin nanya asl, skul-kul-or ker, dmn? Nama? ada fs? Email? Sampai tukeran no HP (waduh koq tahu nih? Pengalaman pribadi ya? Sstt…amniyah ^_^). Nggak cukup sampe di situ, follow-up nya adalah sms-sms taujih dan kata-kata penyemangat. Ada juga yang ngirim berita/artikell islami lewat email. Atau sekadar berbalas testi di friendster. Ada juga yang janjian chatting di YM (Yahoo Messanger) dengan dalih melanjutkan perbincangan yang sempet tertunda di chatting perdana.

Yah…begitulah hubungan itu berlanjut sampai akhirnya ada kata ta’aruf dilontarkan, ada kata khitbah diajukan, dan ujungnya, sebuah pernikahan dilangsungkan. Nggak semua seh yang sukses sampe tahap itu. Sang Sutradara-lah yang mengatur. Semua adalah skenario dan rekayasa-Nya. Manusia hanya berencana dan ikhtiar, keputusan tetap dalam genggaman-Nya. Tapi kita manusia juga diberi pilihan. Hidup adalah pilihan. Mau baik ato buruk, mau syurga or neraka., mau sukses ato gagal, semua adalah pilihan. Namun tetap Allah Yang Maha Menentukan. Lebih tepatnya ketentuan yang diikhtiarkan. Semua tetap dibawah kuasa dan kendali-Nya. Makanya kita disuruh memaksimalkan ikhtiar, rajin-rajin berdo’a, lebih mendekatkan diri pada-Nya, dan berserah diri kepada-Nya (tawakkal). insyaAllah, apa yang menjadi pilihan kita, akan dimudahkan dan diberikan yang terbaik. Allahlah Yang Maha Tahu, so nikmati dan syukuri lah apa yang telah diberi. Semua pasti ada hikmahnya. (Lho koq jadi kemana-mana ya?!).

Afwan sebenarnya yang pengen ana sampaikan adalah pilihan kita untuk memilih pasangan. Bagi para ikhwan, pikirkanlah baik-baik (matang-matang, masak-masak) sebelum menawarkan sebuah jalinan bernama ta’aruf. Jangan mudah melontarkannya jika tak ada komitmen dan kesungguhan untuk meneruskannya. Mengertilah keadaan kami (akhwat). Antum tahu, bahwa sifat kaum hawa itu lebih sensitif. Kami mudah sekali terbawa perasaan. Disadari atau tidak, diakui atau tidak, kami adalah makhluk yang mudah sekali GeEr, suka disanjung, suka diberi pujian apalagi diberi perhatian lebih. Jadi saat kata ta’aruf atau mungkin khitbah itu keluar dari lisan seorang lelaki baik dan sholih seperti antum, tak ada alasan bagi kami untuk menolak. Karena jika kami menolak tanpa alasan yang jelas, maka hanya fitnah yang ada. Jadi, tolong tanyakan lagi pada diri antm, apakah kata-kata itu memang keluar dari lubuk hati antum yang terdalam? Apakah antum sudah memohon petunjuk kepada yang Maha Menguasai Hati? Apa antum benar-benar siap (ilmu, iman, mental, fisik, materi, dll) untuk menjalin ikatan suci bernama pernikahan?

Sekali lagi, berhatihatilah dengan kata ta’aruf. Karena ta’aruf adalah gerbang menuju pernikahan. Kemudian timbul pertanyaan, berapa jauhkah jarak pintu gerbang menuju pintu rumah antum? Padahal selama perjalanan akan banyak cobaan menghadang. Bunga-bunga indah di halaman rumah antum bisa membuat kami terpesona. Kolam ikan yang indah juga membuat kami terlena. Ingin sekali kami memetiknya, ingin sekali kami berlama-lama di sana menikmati keindahan dan kenikmatan yang antum sajikan. Tapi kami nggak berhak, kami belum mendapat izin dari si empunya rumah. Tadinya kami ingin segera mencapai sebuah keberkahan, tapi di tengah jalan antum menyuguhkan keindahan-keindahan yang membuat kami lupa akan tujuan semula.

Lebih menyakitkan lagi jika antum membuka gerbang itu lebar-lebar dan kamipun menyambut panggilan antum dengan hati berbunga-bunga. Tapi setelah kami mendekat dan sampai di depan pintu rumah antum, ternyata pintu rumah antum masih tertutup. Bahkan antum tak berniat membukakannya.

Saat itulah hati kami hancur berkeping-keping. Setelah semua harapan kami rangkai, kami bangun, tapi kini semua runtuh tanpa sebuah kepastian. Atau mungkin antum akan membukakannya, tapi kapan? Antum bilang jika saatnya tepat. Lalu antum membiarkan kami menunggu di teras rumah antum dengan suguhan yang membuat kami kembali terbuai, tanpa ada sebuah kejelasan. Jangan biarkan kami berlama-lama di halaman rumah antum jika memang antum tak ingin atau belum siap membukakan pintu untuk kami. Kami akan segera pulang karena mungkin saja kami salah alamat. Siapa tahu rumah antum memang bukan tempat berlabuhnya hati ini. Ada rumah lain yang siap menjadi tempat bernaung bagi kami dari teriknya matahari dan derasnya hujan di luar sana. Kami tak ingin mengkhianati calon suami kami yang sebenarnya. Di istananya ia menunggu calon bidadarinya. Menata istananya agar tampak indah. Sementara kami berkunjung dan berlama-lama di istana orang lain.

Akhi, sebelum ijab qobul itu keluar dari lisan antum, cinta adalah cobaan. Cinta itu akan cenderung pada nafsu. Cinta itu akan cenderung untuk mengajak berbuat maksiat . Itu pasti! Langkah-langkah syetan yang akan menuntunnya. Kita tentunya gak mau memakai label “ta’aruf” untuk membungkus suatu kemaksiatan bukan? Hati-hatilah dengan hubungan ta’aruf yang menjelma menjadi TTM (Ta’aruf Tapi Mesra). Tolong hargai kami sebagai saudara antum. Kami bukan kelinci percobaan. Kami punya perasaan yang tidak berhak antum buat “coba-coba”. Pikirkanlah kembali. Mintalah petunjukNya. Jika antum memang sudah siap dan merasa mantap, segera jemput kami.

Dan satu lagi yang perlu antum perhatikan adalah bagaimana cara antum menjemput. Tentunya kita menginginkan kata BERKAH di awal, di tengah, sampai di ujung pernikahan kan? Hanya ridho dan keberkahanNya lah yang menjadi tujuan. Pilihlah cara yang tepat dan berkah. Antum sudah merasa mantap pada akhwat itu. Antum yakin seyakin-yakinnya bahwa dialah bidadari yang akan menghias istana antum. Tapi antum tidak menggunakan cara yang tepat untuk menjemputnya. Sama halnya jika antum yakin dan mantap untuk menuju Surabaya. Tapi dari Jakarta antum salah memilih kendaraan, akibatnya antum gak akan pernah sampai ke Surabaya, malah nyasar. Ato kendaraannya sudah bener tapi nggak efektif. Terlalu lama di perjalanan. Masih keliling-keliling dulu. Akhirnya banyak waktu terbuang percuma selama perjalanan. So, antum juga harus memikirkan cara yang baik/ahsan, tepat dan berkah agar bahtera rumah tangga antum berjalan di atas ridho dan keberkahanNya. (Tuh kan jadi kemana-mana lagi. Tapi gak papa deh. Setidaknya unek-unek ana dah keluar, fiufh lega!)

Di depan tadi kita bahas apaan sih? Oh ya, ketika ikhwah jatuh cinta. Ana ga akan bahas panjang lebar karena ana tau kalian pasti akan bosan membaca celotehan ana yang “njelimet”. Tapi izinkan ana mengutip beberapa bait tulisan yang ada di majalah al izzah edisi 11/th4/jan 2005 M sebagai perenungan bagi jiwa-jiwa yang merindukan kehadiran sang teman sejati untuk melangkah bersama menuju jannahNya…

Yang BATIL tetap BATIL




Dengan kalimah agung Bismillah...

Allah sebagai pelindung apapun, kepada siapa pun, apa cara pun, bagaimanapun, dan walaupun kita membangkang apa yg Allah suruh, Allah tetap memberi kita rezeki, nafas dan lain2.. masyaAllah.. Allah sungguh baik, kena-pa kita manusia yg tak punya apapun tak insaf... berapa banyak maksiat diluar sana, adakah kita merasa senang dgn melakukan maksiat, jika Allah menutup semua pancaindera kita tak akan nampak,dengar, pk apa2 sekali pun tho hidayah tu dah tejelepok jatuh depan mata.... ansyik nak seronok, susah sikit tak nak tinggalkan, lebih seronok agaknya membiarkan nafsu bermaharajalela, walauapapun kebaikan kita buat jika kita tidak berusaha untuk menjauhi kebatilan kita ttp akan hidup di dalam kebatilan, pk lah wahai manusia sekalian, penat je kita buat ibadah tonggang tonggek, akhirnya dgn sbb dosa dan kebatilan kita tetap lakukan, akhir nnt kita lihat amalan kita zero... apa yg kita dapat hanyalah penat totally penat n penat.. puase dari pagi sampai petang, baca quran,solat mcm2 solat dah buat tapi dgn sedikit dosa yg berterusan dan mmg taknak mujahadah kita tak kan mampu memperoleh keampunan Allah... berletih lah kita sume dgn ibadah yg sia2....
ingat nak masuk syurga ni senang ke? ingat syurga ni ayah kite yg punya? kenapa masih menjadikan nafsu sebagai Tuhan? susah ke senang ke kalau Allah cakap benda 2 haram, ianya tetap haram... siapa kita nak buat undang2 baru??? siapa kita nak cakap tak pro lah ikut undang2 islam??? dah Allah bagi petunjuk dan panduan, katakanlah kepada lelaki TUDUKANLAH PANDANGAN KAMU!!!!... kalau dah pandang pown tak boleh, apa ntah lagi dgn sms,email, comment2 tak tentu hala.... mashaAllah.. apakah kalian pk semua tu Allah tak tanya??? apakah kita merasa sgt bagus??? apakah kita rase kita dah baik bila solat tak tinggal, puase sunat, solat malam lagi, baca quran...??? jangan harap lah..... maksiat buat, taat pun buat... batil - hak jadi zero... yang dapat penat and penat.... marilah kalian dan kita berubah lah ke arah Yang SATU... kematian itu pasti weh, kematian menjenguk kita tiap saat, kematian kate marilah n mari;ah fulan dan fulanah!!! mmg kita tak rase sbb kita tak nampak kan.... cuba kalau kita nampak sume tuh, mau beribadat 24jam pun ta cukup2... beringatlah kawan,sahabat2,taulan, umur kita bukan milik kita, umur muda akan ditanya, kembalilah pada yang SATU kerana itu lbh tenang.... pk lah tentang kedua ibu bapa kita.... setiap dosa kita lakukan pasti Allah tanya pd ibu bapa kita.... tak sayang kah kita pada mereka.... berilah mereka kebahagiaan di akhirat nnt.... jauhilah maksiat kita sume.... jauhkanlah diri kita dari jalan2 menghampiri ke maksiat..... didik lah nafsu dgn bebanan2 berat supada nafsu dapat tunduk pada kita... "marilah berusaha untuk mengejar kebaikan dan menjadi org yang baik"

Tuesday, July 19, 2011

Couple yang dibolehkan?


Bismillahirahmanirahim..
' COUPLE YANG DIBOLEHKAN '......

Kisahnya mengenai 3 org, Syafiq, Safura dan Muhammad. Syafiq dan Safura sama-sama belajar di SAM Bestari. Beberapa lama kemudian, Syafiq jatuh hati pada keayuan Safura. Matanya mengalahkan Zinnirah. Wajahnya berseri-seri dengan cahaya keimanan. Pergh!! Cantik sangatl...ah jika nak diceritakan. Tetapi, Sy...afiq cuba tahan. Dia tidak boleh meluahkan perasaan dia pada Safura sebab nanti takut kena tangkap dengan ajk pencegah maksiat sekolah.

beberapa tahun berlalu...Akhirnya, apabila Syafiq berada di Tingkatan 5, dia sudah tidak mampu bertahan. Dia mengatur langkah dan akhirnya, Safura tewas pada pujuk rayunya. Walaubagaimanapun, mereka ini sedar yang mereka orang Islam. Islam tidak membenarkan umatnya ber’couple’. Jadi mereka berpakat yang mereka ini hendak membuat satu revolusi dalam couple. "COUPLE ISLAMIC". Asal keluar, pergi tempat terbuka. Tak mainlah tempat gelap-gelap ni. Bukan itu sahaja, Safura kena pakai tudung labuh. Syafiq pula pakai serban dan jubah. Lepas itu mereka keluar bukan membuang masa, keluar bawa Al-Quran. Berhenti di kedai makan, tadarrus lagi. Jalan pula, mana ada pegang-pegang tangan, mereka ikut cara Nabi Musa. Lelaki di depan, perempuan di belakang. Bila balik rumah, missed call pagi-pagi. Suruh qiamullail. Hah! kan Islamic punya couple tu.

Setelah setahun mengamalkan taktik sedemikian, Syafiq ditakdirkan bertemu dengan Muhammad. Ketika itu Syafiq dan Safura sedang bertadarrus di RFC. Muhammad tiba-tiba datang menghampiri mereka kerana tiada tempat duduk. Bila duduk, Muhammad bertanya, "Have you married?". "No.", jawab Safura. "So, why you sit together with this ajnabi alone here", tanya Muhammad. "Kami couple, tapi Islamic way" jawab Syafiq. Muhammad hanya tersenyum mendengar jawapan itu. Muhammad pun memulakan ceritanya.

"Aku ni muallaf. Asal dulu aku kristian. Tinggal kat Singapore. Dulu, aku suka sangat makan babi. Kalau sehari tak makan, pengsan aku. Pernah sekali mak aku terlupa beli babi, aku masuk wad malam tu. Tetapi, Alhamdulillah, Allah buka pintu hati aku untuk terima hidayah-Nya. Bila aku masuk Islam, aku dapat tahu, dalam Islam tak boleh makan babi. Aduh, pening kepala aku. Macam mana aku nak buat ni??? Seminggu aku masuk hospital lepas masuk Islam. Kalau zaman Rasulullah dulu ada peringkat-peringkat dia. Tapi aku…mana ada. Jadi, time kat hospital tu aku fikir. Akhirnya, aku jumpa satu jalan keluar. Aku nak Islamkan babi tu. Aku beli seekor anak babi. Dari kecik aku jaga dia. Seekor lalat pun aku tak bagi dekat. Setiap jam aku mandikan dia. Lepas 3 hari, aku bisikkan kat telinga dia dua kalimah syahadah. Lepas tu, tiap-tiap hari aku bagi tazkirah kat babi tu. Asal dia berak aku vacuum terus. Camnilah kehidupan aku dan babi tu buat 2 tahun. Lepas dua tahun, masa yang ditunggu-tunggu tiba. Masa untuk sembelih babi ni. Tengok-tengok babi ni takde leher. Tapi, lantaklah. Aku tibai je sebab dah 2 tahun tak makan babi ni. Lepas tu, aku pun masak la bakut teh. Tengah-tengah makan, nampak seorang ustaz tengah jalan-jalan. Muka macam lapar je. Aku pun ajak la dia makan. Ustaz!!! jom makan. Babi Islam nih.”

Bila terdengar kisah itu, Syafiq dan Safura pun sedar. Kalau benda itu haram, ia tetap haram. Yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas...

p/s : yg HARAM tetap akan HARAM walau kita cuba apa cara sekalipon untuk mengHALALkannya..peringatan untuk diri ana sendiri terutamanya....wallahualam

Aku yang kehilangan


A for Allah
Ba for BasmALLAH

Detik demi detik, hari demi hari, waktu semakin menghampirkan daku ke alam selanjutnya... aku akan kehilangan.. kehilangan sebuah perkara yang amat bermakna.. hanya diri ini yang benar memahami, tetapi ada satu kuasa besar yang lebih Maha Mengetahui, mungkin aku hanya kehilangan sedikit disini, percayalah dan yakin dgn janji Rabmu bahwa kau mungkin akan dapat yg lebih di sana.. sgl keindahan, sgl keseronokan, sgl kenikmatan yg tak terhingga adalah sifatnya si syurgawi, mana nikmat jika kau dah alami di dunia.... sungguh keperitan, kehilangan, kepayahan adalah onak dan duri menuju yang SATU... menuju yang ESA... Dia memberi kita modal untuk mendapat untung diakhirat.. dimanakah perniagaan yang modal diberikan berserta untung...

BERSYUKUR???+BERSABAR???
sungguh bersyukur adalah lebih payah dari bersabar.... mungkin aku kehilangan sedikit berbanding dgn apa yg telah Allah kurniakan padaku... harusnya aku bersyukur dgn apa yg tinggal dan menjaganya seelok mungkin... kau punya banyak lagi disampingmu.... tetapi mengapa tidak menghargai mereka?? mengapa mencari yg telah tiada??? yang telah pergi hijrah darimu??? aku tak pernah melupakannya.... aku senantiasa mengingatinya... barangkali begitu tiada kesempatan waktu, barangkali dia juga sama mcm aku... bersyukur dgn apa yg telah ALLAH kurniakan pada engkau kerna tak semua yang akan dapat sepertimu.... Allah memilihmu, jadi bersyukur lah... apakah hakmu untuk memohon lebih padaNya?? rezeki Dia yang beri, Dia melindungi mu dari mara bahaya, Dia menjagamu seperti bayi, tidur diulitiNya... apakah engkau tidak lagi mahu bersyukur?? dgn sgl kenikmatan yang telah dikurniakan???

JANGAN TIDAK BISA
Hidupmu hanya kepada memberi... MEMBERI lah apa yang bisa dimanfaatkan kepada masyarakat... beri lah apa sahaja....Dun Expect more... dun give any high expectation... berlapang dada lah kamu menerima apa sahaja.. jika dikurniakan ujian kok bisa ucap saja Alhamdulillah kerna itu membuat hati ini tenang... jika terima ganjaran dariNya ucap juga Alhamdulillah agar tidak rasa kita ini besar... moga menjadi orang bertaqwa... kerana syurga itu miliknya org bertaqwa...biarpun ramai yg jauh darimu itukan sunnah orang berjuang... bisa punya dijauhi oleh org yg enggak mahu menerima islam... sabar kok.... la tahzan innALLAHama'ana inshaAllah...

Tuesday, April 5, 2011

jiwa ini merintih lirih dek kebasahan rindu


Dimana kalian, hati ini tidak dapat membohongi lagi tika hati ini merindui kalian,.. sesibuk mana pown kalian tetap akan sentiasa singgah di benakku.. tatkala menyelusuri sungai, senda tawa kedengaran lagi membuat hati berbunga riang, tatkala melewati semak hilai tawa pula singgah di hati ku mengeletek perasaan tatkala mengingati kenangan demi kenangan bersamamu wahai sahabatku... puas cuba meruntuhkan benteng keegoaan ini tetapi tetap juga dibalas dengan kehampaan.. ketahuilah kalian hati ini mencintai kalian dan merindukan satu pertemuan.. saban hari doa dipanjatkan pertemuan berbentuk halaqoh pasti dibina untuk cinta kepada kalian.. kenikmatan ini tak ingin dirasai sendirian tanpa kalian.... tetapi hanya sebuah pengharapan yang bertamu... dengan izin Allah, pasti akan tertunai.... kenangan2 yang lalu cukup perit untuk diingat kembali.. dek kenangan itu jualah, kolam ini sentiasa banjir dengan titisan jernih... mungkin kalian tidak merasai sekeping rindu yang sentiasa bertamu di jiwa ini... mungkin jua kalian punyai teman... sekian.. kembalilah bersahabat... jiwa ini sentiasa menunggu...merindu....

Amar - Melodi Bersama



Lovely Sunshine



Salam....
Dedicated to my beloved sisters (khaizatul izzaty, dalinafasyakila,jannah,nabilah,hanisah omar, siti hanora dan nisa)...
you all are my sunshine
you all are my rainbow after the rain has fall...
you all are my strength after weak...
kala pencoretan ini, hati benar2 sayu tatkala mengenangkan ukhuwah yg terbina walaupun sebentar, tetapi ianya cukup2 memberi impak semaksimanya, walaupun ianya akan berakhir disini tetapi inshaAllah diakhirat kelak tiada pengakhiran.. teguh lah bersama berganding bahu dan tenaga saling berpesan2 dengan kebaikan dan berpesan2 dengan kesabaran.. ukhuwah fillah....

Thursday, March 31, 2011

Andai itu setandus gurun sahara


A for Allah
Ba' for Bismillahirrahmannirr
ahim

"Pasti cuba di sirami dengan selautan air agar tidak ketandusan lagi"

(36:19) mereka utusan Allah itu berkata, "kemalangankamu ituadalah kerana kamu sendiri. Apakah karena kamu diberi peringatan? sebenarnya kamu adalah kaum yang melampaui batas"

"isk budak ni, aku yang msg ko, ko boleh tanye lagi aku kat mana, menyusahkan orang btol lah dah aku cakap kat sini, kat sini lah..meluat betullll aku tgk dia tu.." meratah danging aya sofia dengan lazat sekali, ditambah pula condiment yang menyelerakan....

terdengar aya sofia tika rakan nya mengumpat nya tika dia baru termengah2 ke kelas.. sayunya aya sofia tika mengetahui kebanyakkan rakannya tidak menyenanginya dek perubahan yang dia lakukan.... tetapi wajahnya tetap mengukirkan senyuman

"masyaAllah, saya mohon maaf kira msg tadi menganggu awak", saya ada belikan awak air cool blog ni.. ambillah.... umpatan perlu dibalas dengan kebaikan.. fikir aya sofia...

seusai kelas tadi, aya sofia melangkah ke bangsal berhampiran sungai, melewati Dang Merduwati dan Dang Anum. melihat bunga ala2 bunga sakura yang menjadi kebangaan negara jepun dan korea berguguran jatuh membuat hatinya amat tenang dan damai walaupun seribu keperitan yang melanda... wajahnya sentiasa diukirkan senyuman bak bidadari kepada sesiapa sahaja yang beliau lewati... senyuman yang mmg tidak pernah lekang dari bibirnya walau sejuta peritan hidup terpaksa dihadapi....

perjalanan yang mengambil masa selama 10minit itu memberi impak kepada hati aya sofia yang ketandusan cinta Ilahi dengan mentadaburi alam semesta... Analogi ulat bulu sempat jua terakam dimindanya... "tatkala mentari menunjukkan kelibatnya, ulat bulu mencari rumput sebagai pelindung tetapi dalam mencari pelindungan di celahan rumput, ia banyak yang syahid di tgh jalan, walaupun melihat banyak yang tersungkur, ulat bulu ttp menghabiskan perjalanannya... begitu lah setiap hari hidupnya.. begitu juga dengan kehidupan manusia, tatkala sedang menuju syurga yang amat mahal, perlu menghadapi pelbagai rintangan.. harus tabah dan kuat menghadapinya agar tidak tersungkur di pintu syurga... fikir aya sofia...

"aya sofia budak baik, ingatlah sahabat ku, tugas kita hanya menyeru tetapi bukan penghukum mereka, walaupun mereka menutup telinga sekalipun jangan lah kita bersedih sesungguhnya Allah bersama orang2 yang membantu di jalan Allah, kita juga bukan pemberi hidayah, tugak kita hanya mengenalkan mereka dengan kefahaman terhadap islam, jangan lelah atas jalan dakwah ini... berdakwahlah dengan akhlak islami, berlemah lembut lah pada mereka tatkala mereka menghina kita.. sabarlah teman.. pasti ada ganjaran " nasihat seorang sahabat seperjuangan menerjah ingatan... sahabat yang sentiasa memberinya madah dan nasihat yang berguna.... walau berjauhan pasti rindu bertandang.... akan ku abadikan di kotak ingatanku selamanya...


kebanyakkan pemuda pemudi berduaan ke kelas masing masing, bertepuk bertampar tanpa hayya lagi....tidak juga segan silu menceritakan perkara maksiat di tengah orang ramai, tidak berpasangan dianggap ketinggalan zaman dan tiak maju.... masyaAllah, terdapat banyak lagi insan yang ketandusan ilmu agama, mungkin mereka nakkan pada kebaikan cumanya mereka tiada pendedahan. mana syabab pendakwah kita??? aya sofia berazam akan cuba menyampaikan dakwah kepada penduduk uitm. walaupun sikit tetapi biar berkualiti....

to be continue...

Tuesday, March 29, 2011

Dakwah bukan kerja untuk "SI Manja"


Dalam perjalanan ke Najed, Abu Musa AI Asy’ari RA meriwayatkan, “Dalam perjalanan itu kami keluar bersama Rasulullah SAW . Waktu itu kami enam orang bergantian menunggang satu unta. Seorang naik unta secara bergantian. Sambil menunggu giliran kami harus menempuh perjalanan yang panjang, sehingga telapak kaki kami pecah-pecah dan kuku-kukunya pun tercabut. Waktu itu kami balut kaki kami dengan percaan kain sehingga aku menyebut peperangan itu perang DzaturRiqaa’ (Percaan Kain).”

Dalam riwayat Ibnu Ishaq dan Ahmad dari Jabir bin Abdullah RA ia menceritakan, “Kami berangkat bersama Rasulullah SAW pada perangDzatur Riqaa’. Pada kesempatan itu tertawanlah seorang wanita musyrikin. Setelah Rasulullah SAW berangkat pulang, suami wanita itu yang sebelumnya tidak ada di rumah baru saja pulang. Kemudian lelaki itu bersumpah tidak akan berhenti mencari sebelum dapat mengalirkan darah para sahabat Muhammad SAW. Lalu lelaki itu keluar mengikuti jejak perjalanan Rasulullah SAW.

Pada sebuah lorong di suatu lembah Rasulullah SAW bersama para sahabat berhenti. Kemudian beliau bersabda, “Siapakah di antara kalian yang bersedia menjaga kita malam ini?” Jabir berkata, “Maka majulah seorang dari Muhajirin dan seorang lagi dari Anshar lalu keduanya menjawab, ‘Kami siap untuk berjaga ya Rasulullah’. Nabi Muhammad SAW berpesan Jagalah kami di mulut lorong Jabir menceritakan waktu itu, Rasulullah S AW bersama para sahabat berhenti di lorong suatu lembah. “Ketika kedua orang sahabat itu ke mulut lorong, sahabat Anshar berkata kepada sahabat Muhajirun, `Pukul berapa engkau inginkan aku berjaga, apakah permulaan malam ataukah akhirnya?’ Sahabat Muhajirun menjawab;”Jagalah kami di awal malam. Kemudian sahabat Muhajirun itu berbaring tidur.

Sedangkan sahabat Anshar melakukan solat malam. Jabir berkata, datanglah lelaki musyrik itu dan ketika mengenali sahabat Anshar dia memahami bahwa sahabat itu sedang melakukan hirasah. Kemudian orang itu memanah sahabat Anshar itu dan tepat mengenai dirinya sebanyak tiga kali, lalu dicabutnya pula anak panah itu kemudian beliau rukuk dan sujud. Setelah itu dia membangunkan sahabat Muhajirun seraya berkata, ‘Bangunlah kerana aku telah dilukai.’ Jabir berkata, “Kemudian sahabat Muhajirun itu melompat mencari orang yang melukai sahabat Anshar itu.

Ketika orang musyrikin itu melihat keduanya ia sedar bahawa dirinya telah diketahui maka ia pun melarikan diri. Ketika sahabat Muhajirin mengetahui darah yang berlumuran di dada sahabat Anshar, ia berkata, ‘Subhanallah kenapa engkau tidak membangunkan aku dari tadi?’ Sahabat Anshar menjawab, Aku sedang membaca surah dan aku tidak ingin memutusnya. Namun, setelah orang itu berkali-kali memanahku barulah aku rukuk dan memberitahukanmu. Demi Allah SWT kalau bukan kerana takut mengabaikan tugas penjagaan yang diperintahkan Rasulullah SAW kepadaku niscaya nafasku akan berhenti sebelum aku membatalkan shalat.”‘

Kesetiaan Memenuhi Seruan Da’wah, Indikasi Sikap Kesungguhan Da’ie

Perjalanan da’wah bukanlah perjalanan yang banyak ditaburi oleh kegemerlapan dan kesenangan melainkan ia merupakan perjalanan panjang yang penuh tentangan dan rintangan berat. Telah banyak kita dapati sejarah orang¬orang terdahulu yang merasakan perjalanan da’wah ini. Ada yang disiksa, ada pula yang harus meninggalkan kaum kerabatnya ada pula yang diusir dari kampung halamannya. Dan deretan kisah perjuangan lainnya yang banyak tersebar bukti dari pengorbanannya dalam jalan da’wah ini. Mereka telah merasakan dan sekaligus membuktikan cinta dan kesetiaan mereka terhadap da’wah. Abu Musa Al-As’ari dan para sahabat lainnya – Semoga Allah subhanahu wa ta’ala meredhai mereka yang telah merasakannya sehingga kaki-kaki mereka terkoyak kulitnya dan sebahagian kuku kaki mereka tanggal.

Namun, mereka mengharungi perjalanan itu tanpa mengeluh sedikitpun bahkan mereka malu untuk menceritakannya kerana keikhlasan mereka dalam perjuangan ini. Keikhlasan membuat mereka gigih dalam pengorbanannya dan menjadi tinta emas sejarah umat da’wah ini. Pengorbanan yang telah mereka berikan dalam perjalanan da’wah ini menjadi suri teladan bagi generasi sesudahnya. Dengan izin Allah, atas darah dan air mata mereka, maka da’wah ini tumbuh bersemi dan generasi berikutnya menuai hasilnya dengan gemilang. Wilayah Islam telah tersebar ke seluruh pelosok dunia. Populasi umat Islam semakin membesar. Semua itu merupakan kurnia yang diberikan Allah SWT melalui kesungguhan dan kesetiaan para pendahulu da’wah ini. Semoga Allah meredhai mereka dan mereka pun redha kepada-Nya. Mereka telah mengalami langsung (directly) apa yang difirmankan Allah SWT dalam AI Qur’an surat At Taubah ayat 42, berikut:“Kalau yang kamu serukan kepada mereka itu keuntungan yang mudah diperoleh dan perjalanan yang tidak berapa jauh, pastilah mereka mengikutimu, tetapi tempat yang dituju itu amat jauh terasa oleh mereka. Mereka akan bersumpah dengan (nama) Allah: ‘;Jika kami sanggup tentulah kami berangkat bersama¬samamu” Mereka membinasakan diri mereka sendiri dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya mereka benar-benarorang-orang yang berdusta”. Mereka juga telah melihat manusia-manusia yang dapat bertahan dalam mengharungi perjalanan yang berat itu. Hanya kesetiaanlah yang dapat tabah meniti perjalanan da’wah ini. Kesetiaan yang menjadikan pemiliknya sabar dalam menghadapi cubaan dan ujian. Menjadikan mereka optimis menghadapi kesulitan dan siap berkorban untuk meraih kejayaan.

Kesetiaan yang menghantarkan jiwa-jiwa patriotik untuk berada pada barisan terdepan dalam perjuangan ini. Kesetiaan yang membuat pelakunya berbahagia dan sangat menikmati beban hidupnya. Setia dalam kesempitan dan kesukaran, demikian pula setia dalam kelapangan dan kemudahan. Sebaliknya orang-orang yang lemah jiwanya dalam perjuangan ini tidak akan dapat bertahan lama. Mereka mengeluh atas beratnya perjalanan yang mereka tempuh. Mereka pun menolak untuk menunaikannya dengan pelbagai alasan agar mereka diizinkan untuk tidak ikut serta. Mereka pun berat hati berada dalam perjuangan ini dan akhirnya berguguran satu persatu sebelum mereka sampai pada tujuan perjuangan.

Penyakit wahn (cinta dunia dan takut mati) telah menyerang mental mereka yang rapuh sehingga mereka tidak dapat menerima kenyataan pahit sebagai risiko dan sunnah da’wah ini. Malah mereka menggugatnya lantaran anggapan mereka bahawa perjuangan da’wah tidaklah harus mengalami kesulitan. “Sesungguhnya yang akan meminta izin kepadamu, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan hati mereka ragu-ragu, kerana itu mereka selalu bimbang dalam keragu-raguannya. Dan jika mereka mahu berangkat, tentulah mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu, tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka, maka Allah melemahkan keinginan mereka, dan dikatakan kepada mereka: “Tinggallah kamu bersama orang-orang yang tinggal itu.” (At Taubah [9]: 45 – 46)

Kesetiaan merupakan indikasi sikap kesungguhan da’ie da’wah. Sikap ini membuat mereka sentiasa siap-siaga menjalankan tugas yang terpikul di pundaknya. Mereka pun dapat menunaikan tugas dengan sebaik-baiknya. Bila ditugaskan sebagai prajurit terdepan dengan segala akibat yang akan dihadapinya ia senantiasa berada pada posnya tanpa ingin meninggalkannya sekejap pun. Atau bila ditempatkan pada bahagian belakang, ia akan berada pada tempatnya tanpa berpindah-pindah. Sebagaimana yang disebutkan Rasulullah saw. dalam beberapa riwayat tentang prajurit yang baik.

Sebagaimana kisah akh (saudara) yang tempatnya bekerja sudah berada di kota untuk memberikan ceramah kemudian berpindah tempat lagi untuk mengisi daurah dari waktu ke waktu secara marathon, berpindah-pindah dari satu kota ke kota untuk menunaikan amanah da’wah. Sesi menunaikan tugas dengan sebaik-baiknya merupakan orang yang pertama kali datang tempatnya bekerja malah ia yang membuk pintu gerbangnya. Pernah ia mengalami keletihan hingga tertidur di sofa rumah Zainab Al Ghazali. Melihat keadaan tubuhnya yang kepenatan itu, tuan rumah membiarkan tamunya tertidur sampai bangun. Setelah menyampaikan amanah untuk Zainab Al Ghazali, Abdul Fattah Abu Ismail minta izin untuk ke kota lainnya. Melihatkan keletihan yang dialaminya, Zainab Al Ghazali memberikan tambang untuk naik teksi. Abdul Fattah Abu Ismail mengembalikannya sambil mengatakan “Da’wah ini tidak akan dipikul oleh orang-orang yang manja”. Zainab pun menjawab, “Saya sering ke mana-mana dengan teksi dan kenderaan-kenderaan mewah tapi tetap dapat memikul da’wah ini dan saya tidak menjadi orang yang manja terhadap da’wah ini, kerana itu gunalah duit tambang ini, tubuh letih dan engkau memerlukan istirehat sejer la pun menjawab, “Berbahagialah ibu, ibu berhasil menghadapi ujian Allah SWT dengan kenikmatan-kenikmatan itu. Namun, khawatir saya tidak dapat menghadap sebagaimana sikap ibu, terima kasih kebaikan ibu, biarlah saya naik kenderaan umum saja.”

Keyakinan Pada Janji-Janji Allah subhanahu wa ta’ala

Orang-orang yang telah membukti kesetiaannya pada da’wah lantaran keyakinan mereka terhadap janji-janji Allah subhanahu wa ta’ala telah banyak memberikan janji-Nya pada orang-orang yang beriman yang setia pada jalan da’wah ini berupa pelbagai anugerah-Nya. Sebagaimana yang terdapat dalam Al-Qur’an: “Hai orang-orang yang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqaan dan menghapuskan segala kesalahan-kesalahanmu dan mengampuni (dosa-dosa) mu. Dan Allah mempunyai karunia yang besar”. (Al Anfal [8]: 29)

Dengan janji Allah SWT tersebut orang-orang beriman tetap bertahan mengarungi jalan da’wah ini. Dan mereka pun tahu bahawa perjuangan yang berat itu sebagai kunci untuk mendapatkannya. Semakin berat perjuangan ini semakin besar janji yang diberikan Allah SWT kepadanya. Kesetiaan yang bersemayam dalam diri mereka itulah yang membuat mereka tidak akan pernah menyalahi janji-Nya dan mereka pun tidak akan pernah mahu mengubah janji kepada-Nya.

“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak merubah (janjinya).” (Al Ahzab (33]: 23) Seorang pejuang Palestina yang telah berlama-lama meninggalkan kampung halaman dan keluarganya untuk membuat mencari dukungan dunia dan dana pernah diwawancarai. ‘Apa yang membuat Anda dapat berlama-lama meninggalkan keluarga dan kampung halaman.” Jawabnya adalah kerana perjuangan, dan dengan perjuangan itu kemuliaan hidup mereka lebih bererti serta untuk masa depan bangsa dan tanah airnya. “Kalau bukan kerana da’wah dan perjuangan kami pun mungkin tidak akan dapat bertahan,” lirihnya.

Kesabaran Modal Kesetiaan

Da’ie da’wah sangat menyakini bahawa kesabaran yang ada pada dirinya yang membuat mereka kuat menghadapi pelbagai rintangan da’wah. Bila dibandingkan apa yang kita lakukan serta yang kita dapatkan sebagai risiko perjuangan di hari ini dengan keadaan orang-orang yang terdahulu dalam perjalanan da’wah ini belumlah seberapa. Pengorbanan kita di hari ini masih sebatas pengorbanan waktu untuk da’wah. Pengorbanan sebahagian kecil dari harta kita yang banyak. Dan bentuk pengorbanan yang kecil-kecil lainnya yang telah kita lakukan.

Cuba lihat pengorbanan orang-orang terdahulu, ada yang disisir dengan sisir besi, ada yang digergaji, ada yang diikat dengan empat ekor kuda yang berlawanan arah lalu kuda itu dipukul untuk lari sekencang-kencang hingga robeklah orang itu. Ada pula yang dibakar dengan tungku yang berisi minyak panas. Mereka dapat menerima risiko kerana kesabaran yang ada pada dirinya. Kesabaran sebagai kuda-kuda pertahanan orang-orang beriman dalam meniti perjalanan ini. Bekal kesabaran mereka tidak pernah berkurang sedikit pun kerana keikhlasan dan kesetiaan mereka pada Allah SWT

“Dan berapa banyak nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertaqwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar.” (Ali Imran [3]: 146)

Bila kita memandang kehidupan generasi pilihan, kita akan temukan kisah-kisah brilian yang telah menyuburkan da’wah ini. Muncullah pertanyaan besar yang harus kita tujukan pada diri kita saat ini. Apakah kita dapat menyemai da’wah ini menjadi subur dengan perjuangan yang kita lakukan sekarang ini ataukah kita akan menjadi generasi yang hilang dalam sejarah da’wah ini? Ingat, da’wah ini tidak akan pernah dapat dipikul oleh orang-orang yang manja. Kesungguhan da’ie merupakan kenderaan yang akan menghantarkan kepada kejayaan da’wah ini.

Wallahu ‘alam

Tautan Hati




A for Allah
Ba for Bismillahirrahmanirrahim

"Sesungguhnya Allah tidak memandang kepada rupa paras kamu dan harta kekayaan kamu tetapi Allah memandang kepa
da hati2 kamu
dan amalan2 kamu"

MasyaAllah telah sekian lama tidak mengemaskini blog ini dek kekangan waktu yang amat.. terasa bagaikan sehari tu macam sejam je... macam2 nak b
uat.. masa dengan famili pun tidak banyak diperuntukan tetapi ketahuilah kalian bahwa anakmu ini tetap memahat kukuh kalian di hati... terasa amat rindu pada kalian, ingin sek
ali daku mendongdang sayang, bermadu kasih bersama kalian, sesekali bergenang titisan jernih di kolam mata ini dek ingatkan kalian... tetapi apakah dayaku tugasan mentarbiyah diri adalah lebih penting kerna daku ingin bersama kalian ke syurga yang abadi... daku amatlah bersyukur mempunyai kalian yang selama ini menjadi pendo
kong buatku....

Perjalanan dakwah tidak semudah yang disangka.. mengajak orang ke arah kebaikan adalah amat payah... terkadang akan tersungkur tika tersadung akar di jalanan.. tetapi harus dikuatkan semangat, di padukan tenaga dan kudrat merempuh
halangan... selembut sutera bicara demi Mu yang Satu.... menyeru...menyeru.. tetapi ia tidak mudah memberi kefahaman pada insan2.... harus dgagahi jua.. sampai akhir hayat pendakwah tetap akan berada dijalanMu....
Tika bersama berukhuwah amatlah manis da
n indah, masyaAllah.. tidak pernah dirasakan dahulu kala... bertemu kerana Allah, berpisah kerana Allah... bertemunya sarat dengan nasihat dan madah pembangkit semangat... hanya keranaMu.. indahnya...nikmatnya.. berbunga riang hati dan jiwa amatlah tenang... berpesan-pesan dengan kebaikan dan berpesan-pesan dengan kesabaran adalah motto ukhuwah.. ukhwah yang terjalin di tempat yang indah dalam keadaan yang suci.. yang tidak diduga2..... bertemu
nya pasti membuahkan kerinduan yang tidak dapat diungkapkan... sahabat begini yang diidamkan.. sahabat yang apabila melihat wajahnya terpancar kelembutan bidadari dan mengingatkan kita pada Allah yang Maha Satu.... semusim telah berlalu... ukhuwah tetap diteguhkan.. kuat menguatkan antara satu sama lain.. mencintai sahabat lebih dari mencintai diri sendiri adalah tema ukhuwah... bergolok bergadai, berkorban hanyalah kerana Allah atas kasih sayang terhadap sahabat... telah lama dipanjatkan doa agar dkurniakan sahabat begini.. akhirnya Alhamdulillah syukur kepada Sang Pencipta.... terkadang lelehan air mata kelihatan atas perpisahan ini.. namun harus akur bersahabat atas jalan dakwah bukan atas makhluk... tidak kira penat lelah seharian belajar, berhalaqoh tetap dipenuhi.... indahnya.. sesal dahulu pendapatan, sesal kemudian tidak berguna.... sesak kerna terlewat berjumpa kalian,,,... sesal kerana membiarkan kalian tanpa bimbingan... sesal kerana tidak memenuhi hak kalian.... begitu kerdilnya..lemah dan hina dini diri ini....

merindui kalian...


Thursday, March 17, 2011

Tidak seindah mimpi

Telah ku katakan sebelumnya, dipercayai lebih utama daripada dicintai. Dan itulah juga ungkapan yang kerap diulang-ulang oleh mereka yang arif tentang cinta. Ramai yang kurang bersetuju dengan kata-kata ini. Masakan begitu, detik hati kita.

Teringat kembali detik mengetahui cinta kita telah diterima oleh si dia… Ah, gembiranya saat itu. Dunia ini seakan tersenyum. Bulan, mentari dan bintang seakan turut bersama kita meraikan detik yang sangat indah itu. Bukankah dicintai lebih utama daripada dipercayai? Hati kita berkata-kata.

Musim berlalu. Alam rumah tangga yang kita bina bersamanya menongkah arus ujian. Pelbagai suka duka, pahit manis diharungi bersama. Kata orang, semakin tinggi pokok yang kita panjat, semakin kuat pula angin yang menggoyang. Maksudnya, semakin tinggi puncak kehidupan ini kita daki maka semakin banyak dan hebat ujian yang menggugah hati. Warna sebenar (true colours) kita dan pasangan kita akan terserlah. Pada ketika itu segala yang pahit, masam, busuk akan terserlah…

Cinta semata-mata tidak akan mampu mempertahankan keharmonian rumah tangga. Perkahwinan dimulakan oleh cinta tetapi disempurnakan oleh tanggung jawab. Cinta itu satu rasa yang bertunjangkan perasaan. Perasaan tanpa kekuatan jiwa dan kematangan berfikir akan goyah apabila berdepan dengan ujian. “Perasaan” adalah hamba yang baik tetapi tuan yang sangat buruk. Justeru, jika ingin selamat, pastikan perasaan “bekerja” untuk kita, bukan sebaliknya.

Akan tiba masanya, sesuatu yang kita lihat indah dahulu tidak indah lagi kini. Jika kita hanya bergantung kepada perasaan, cinta kita akan tercalar. Pada ketika itu cinta memerlukan tanggung jawab dan tanggung jawab menuntut satu kepercayaan. Ketika cinta mula goyah di pentas rumah tangga, tanggung jawab akan datang menyelamatkan “pertunjukan” dengan peranan yang lebih berkesan.

Cuba bayangkan, ketika isterimu hamil, muntah-muntah, rambut kusut dan badannya tidak terjaga lagi kerana menanggung derita tempoh mengandung, ketika mulutnya mula becok mengasuh dan mengelolakan anak yang berderet selang setahun, atau ketika suamimu termenung memikirkan belanjawan rumah yang semakin meningkat atau keceriaannya semakin menurun gara-gara sibuk mengejar tugasan yang bertali arus… Bagaimana? Masih berserikah wajah sidia seperti yang kita lihat pada malam pertama?

Atau lebih menguji lagi apabila umur perkahwinan semakin lanjut dan kita sudah mencecah usia senja. Pada saat itu darah tinggi, diabetes, tahap kolesterol, obesiti dan malam-macam penyakit mula bertamu. Mungkin kita selamat, isteri pula yang menghidapnya. Bagaimana? Sanggupkah kita menjaganya dengan setia? Membawanya ke hospital memenuhi rutin rawatan, memastikan segala ubat-ubat dimakannya menepati jadual, atau lebih “ekstrem” lagi terpaksa menyuap makan-minumnya ketika dia sudah terbaring kesakitan serta menukar kain lampin kerana dia sudah tidak mampu mengurus diri?

Cinta memang hebat, tetapi ia tidak dapat menandingi tanggung-jawab. Cinta yang hebat ialah cinta yang ditunjangi tangung jawab. Cinta itu untuk memberi bukan untuk menerima. Lafaz, “aku terima nikah,” oleh kita sebagai suami musim lalu bukan bererti kita menerima sebaliknya untuk memberi. Kita memikul tanggung jawab untuk memberi kasih-sayang, perhatian, pembelaan, didikan dan segalanya…

Pun begitu bagi si isteri… penerimaan mu sebagai pasangan hidupnya bukan ertinya untuk kau menerima tetapi untuk memberi – memberi kesetiaan, kepatuhan, pembelaan dan seluruh jiwa raga mu untuknya. Kau telah membuat satu aku janji yang paling suci dan tinggi dalam hidup mu, bukan untuk seseketika tetapi untuk selama-lamanya. Bukan hanya ketika suami mu bertubuh kekar, tetapi sehinggalah dia terlantar. Bukan hanya ketika rambutnya hitam tersisir rapi, tetapi hingga rambutnya putih dan mungkin tidak tumbuh-tumbuh lagi!

Itu baru ujian luaran. Belum lagi ujian dalaman yang berbentuk cemburu, jemu, marah, curiga dan lain-lain “virus” perhubungan. Berapa banyak hubungan yang terputus atau tinggal nyawa-nyawa ikan kerana hilangnya kepercayaan.
“Aku cintakannya, tetapi aku curiga apakah dia setia dengan ku?”
“Tergodakah dia bila di belakangku?”
Itulah contoh dialog hati yang merasuk bila ada cinta tetapi kurang ada percaya. Fobia dan trauma ini sering melanda rumah tangga. Ia akan menyebabkan hilang bahagia.

Pernah anda lihat si suami yang “diganggu” panggilan telefon oleh isterinya setiap selang 15 minit sekali? Aduh rimasnya. Betulkah itu kerana cinta atau kerana curiga. Pada hal cinta itu membebaskan bukan mengawal. Jika kita benar cintakan suami atau isteri, dan cinta itu ditunjangi oleh kepercayaan, kita tidak akan mengawalnya bahkan kita akan membebaskannya. Terbanglah ke mana kau suka, insya-Allah kau akan kembali jua. Justeru hati mu… tetap di sini, di hati ku!

Ada si suami yang curi-curi memeriksa “inbox” dan “sent” telefon bimbit isteri kalau-kalau ada SMS yang mencurigakan? Ada pula isteri yang menyelongkar setiap inci kereta suami takut-takut ada “kesan-kesan” tinggalan perempuan lain. Pernah saya dengar ada suami yang memusnahkan segala resit, bil, surat-surat kecil, dan apa jua dokumen-dokumen picisan dalam poket dan beg duitnya sebelum pulang ke rumah takut “disoal siasat” oleh isterinya?

“Ini bil makan, abang makan dengan siapa?”
“Lain macam sahaja mesranya SMS ini, ada apa-apa ke ni?”
“Eh, banyak yang abang beli ni. Tetapi kenapa nampak sedikit sahaja yang dibawa pulang ke rumah?”

Itulah soalan-soalan isteri yang menyebabkan suami terkial-kial menjawabnya. Pada suami semua itu remeh temeh, tetapi tidak pada isteri yang tidak percaya, semua itu boleh dijadikan modal “perang besar”. Kalau si suami disyaki ada di tempat yang tidak sepatutnya ada atau pada waktu yang tidak sesuai, siap sedialah menghadapi hukuman jika gagal memberikan “alibi”!

Itulah gara-gara sama ada isteri tidak mempercayai suami atau suami tidak mempercayai isteri atau kedua-duanya sudah saling tidak mempercayai! Bukan kerana tidak ada cinta tetapi kerana hadirnya sebuah curiga akibat hilang rasa percaya. Sebab itu mengikut kajian, penceraian banyak berlaku bukan sahaja pada pasangan yang sudah kehilangan cinta tetapi pada pasangan yang terlalu cinta.

Tidak percayakan seseorang disebabkan dua faktor. Pertama, kita belum benar-benar mengenalinya. Kedua, kerana kita telah benar-benar mengenalinya. Jika disebabkan faktor yang pertama, jalan terbaik ialah kenalilah pasangan anda dengan lebih mendalam. Berkenalan kali pertama dahulu (seawal usia perkahwinan) adalah untuk menumbuhkan bibit-bibit cinta. Tetapi perkenalan kali kedua, ketiga dan seterusnya yakni setelah usia perkahwinan meningkat adalah untuk menyuburkan bibit-bibit percaya. Adalah salah sekali kalau kita beranggapan yang kita telah kenal pasangan kita dan terus menghentikan proses perkenalan. Sedangkan proses perkenalan dalam rumah tangga adalah “on going” (berterusan) sifatnya.

Kenal itu sangat berkait dengan rasa cinta. Dan cinta sejati dalam sebuah rumah tangga adalah dibina atas perkenalan bukan sahaja dengan kebaikan pasangan kita tetapi juga dengan keburukannya. Ya, kita sanggup menerima bukan sahaja yang indah tetapi juga yang hodoh pada wajah batin pasangan kita. Keburukannya akan kita cuba sama-sama atasi dan jika tidak, kita terima seadanya kerana kita sedar kita berkahwin dengan manusia bukan malaikat.

Kita akan terus mempercayainya walau apa pun keadaan. Kita mengingatkan bila dia terlupa dan membantunya sewaktu dia ingat. Jangan sekali-kali hilang kepercayaan. Selagi kita bertekad meneruskan perkahwinan hingga ke akhir hayat, pupuklah kepercayaan. Kepercayaan itu akan melahirkan tanggung jawab dan tanggung jawab adalah oksigen cinta. Oksigen itulah yang akan memberi stamina kepada cinta untuk terus kembara dari dunia hingga ke syurga.

Jika anda bertanya bagaimana memupuk kepercayaan? Jawabnya, kembalilah kepada kepercayaan-kepercayaan yang asas dan teras. Apa lagi jika bukan Rukun Iman? Binalah semua jenis percaya di atas enam kepercayaan itu. Jika suami dan isteri percayakan Allah, dan sama-sama berpegang kepada kehendak-Nya, maka mereka akan saling mempercayai antara satu sama lain. Percayalah kepercayaan kepada Allah itu adalah simpulan yang mengikat kepercayaan sesama manusia.

Sebab itulah kepercayaan juga disebut sebagai akidah – ertinya simpulan. Simpulan yang mempertautkan segala kebaikan. Ya, kepercayaan kita kepada Allah akan menyebabkan pasangan kita mempercayai kita.
“Ah, suami ku jauh. Tetapi aku percayakannya. Dia adalah mukmin yang teguh agama.”
“Aduh lamanya kita berpisah. Namun isteri ku, iman akan menjaga mu…”

Bila hancur sebuah cinta bererti hancurlah satu kepercayaan. Bila hancur kepercayaan bererti hancurlah iman. Wahai suami, wahai isteri… sekali lagi ku tegaskan inilah oksigen cinta. Dan bagi semua yang masih belum mengenal cinta (antara lelaki dengan wanita), burulah sesuatu yang lebih indah daripada dicintai… itulah dipercayai!

Bukankah nabi Muhammad itu lebih dahulu mendapat gelar ”Al Amin” (dipercayai) sebelum menemui srikandi cintanya Siti Khadijah?

"Berfikir Satu Saat adalah Lebih baik dari ibadah satu tahun"

A for Allah
Ba' for Bismillahirrahmannirrahim

"dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidah kamu ketahui. karena pendengaran, penglihatan dan hati nurani semua itu akan diminta pertanggungjawabannya" al isra'(17:36)

hati adalah raja, ia ibaratkan pemandu kepada anggota kita.. kalau baik hati kita maka baiklah seluruh perilaku kita... hati yang kotor akan menimbulkan akhlaq yang buruk seperti marah, bengis, khianat, dengki, dan lain2 sifat mazmumah. hati juga adalah tempat tertumpunya pandangan Allah.

"Sesungguhnya Allah tidak akan memandang kepada rupa paras kaum dan harta kekayaan kamu tetapi Allah memandang kepada hati2 kamu dan amalan kamu" {riwayat muslim}

hati perlu dibersihkan setiap hati, hati yang sudah digilap akan menyebabkan muka berseri2 kerna apa sahaja yang menimpanya pada hari itu, dia akan sentiasa bersangka baik terhadap Allah dan apa sahaja pekerjaan yang dibuatnya itu pasti diniatkan kerna Allah dan dimulakan dengan bismillah.... hati adalah tempatnya syaitan menggoda... hati akan digoda oleh nafsu dan bisikan nurani... bisikan nurani akan cuba mempertahankan apa2 kebaikan yang akan mendorong kita melakukan amalan kebaikan tetapi datangnya syaitan dan nafsu menggoda bisikan nurani.. jadi kekuatan bisikan nurani itu bergantung kepada iman kita dan kebergantungan kita kepada Allah...

Allah taakan pernah menganiaya hambaNya... hambaNya yang senantiasa menganiaya dirinya sendiri dengan perbuatan2 yang akan mendatangkan kemudaratan kemuadian hari....

mujahadahtunnafsi:

orang yang sudah bersih hati:

" Mereka itulah org yg dberi nikmat oleh Allah, iaitu dari golongan para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang yg bawa dalam kapal bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil(Yakub) dan dari org yg telah kami beri petunjuk dan telah kami pilih. Apabila dibacakan ayat2 Allah Yang Maha Pengasih kepada mereka, maka mereka tunduk sujud dan menangis"
'Maryam(19:58)

tujuan Allah menjadikan mata adalah untuk melihat keunikan kejadian Allah dibumi bukan untuk melihat maksiat sesuka hati... menjaga pandangan bukanlah diseru kepada kaum lelaki sahaja malahan juga untuk kaum perempuan... (annur:30) " katakanlah kepada laki2 yg beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, yg demikian itu lebih suci bagi mereka. Sungguh Allah Maha Mengetahui apa yg mereka perbuat."

nah.. tetapi zaman sekarang baik lelaki dan perempuan memang dah hilang maruah, segan lah sikit bile lelaki tu pandang kita... yang lelaki pulak sesuka hati je pandang orang perempuan, isk, jaga lah sikit mata tu.. ta malu ke pandang orang perempuan.. semacam telah diinjak2 maruah si perempuan tadi.. bukan nak ekstrim yang lelaki ta bleh pandang perempuan tapi sekadarnya ah... tak suka..... tak suka berurusan dengan lelaki yang tak pandai nak respect maruah perempuan... bile perempuan tu menjaga diri tolonglah respect.... ni sesuka hati je tenung perempuan.. ingat bini dia ke hapa... jauhkan kami dari pandangan IBLIS Laknatullah...

dari mata turun ke hati...
pepatah orang melayu kan... mmg pun benar, dari mata turun ke hati lah dosanya, zina mata.... jagalah pandangan wahai kaum adam dan hawa.. kita punya maruah... kita punya harga diri...

"Berfikir Satu Saat adalah Lebih baik dari ibadah satu tahun"

Tuesday, March 15, 2011

jodoh

Jodoh seperti rezeki, ia telah ditentukan. Namun, kita tidak tahu apa yang telah ditentukan oleh Allah. Dengan berpegang pada hakikat itu kita diperintahkan-Nya agar berusaha.

Carilah jodoh yang baik, carilah rezeki yang baik dengan jalan yang baik juga. Siapa jodoh kita? Berapa banyak rezeki kita? Dan bila? Itu bukan kerja kita. Itu ketentuan Allah. Milik kita hanya usaha.

Jadi, berusahalah dengan baik, Allah pasti tidak akan mengecewakan kita. Wajib menerima takdir tidak menolak kewajiban untuk mentadbir.

“Dulu saya tidak pernah melihat wajah bakal isteri saya,” kata seorang abang yang sangat saya hormati.

“Pelik tu bang. Bagaimana jodoh abang diaturkan?”

“Ikut pilihan guru agama yang mengajar saya,” jawabnya pendek.

“Mengapa tidak mahu melihat wajahnya? Kan itu dibenarkan oleh syariat? Barangkali sebab waktu itu tidak ada ruangan sosial seperti Facebook danTwitter?” gurau saya.

“Memang belum ada. Tetapi ada cara lain. Gambar dan cara-cara yang lain ada, tetapi sebenarnya ada sebab lain…”

Dalam diam, saya rasa hairan. Wajahnya saya tenung. Dia orang yang sangat saya hormati. Sahsiah dan kepimpinannya sangat menawan hati. Tentu ada sebab yang solid untuk dia bersikap demikian.

“Sebelum aktif sebagai aktivis Islam seperti sekarang, saya pernah menjalin hubungan cinta. Dia teman lama sejak di sekolah rendah lagi,” jelasnya dengan tenang.

“Habis mengapa putus?”

“Kami putus kerana dia ada jalan tersendiri. Saya ajak bersama saya dalam perjuangan Islam ini tetapi dia selesa dengan gayanya. Lepas, bebas. Jadi kami berpisah setelah 10 tahun bercinta.”

Wah, ini kisah cinta yang dramatik! Saya tidak sangka sama sekali dia yang selama ini kelihatan begitu iltizam, tegas dan berwibawa pernah melalui tragedi cinta.

Isteri Amanah

“Itu kisah sebelumnya. Tetapi bagaimana dengan kisah pertemuan dengan isteri abang sekarang?” kata saya beralih kepada maksud asal pertanyaan.

“Setelah putus, abang terus pinta guru agama carikan jodoh. Ingin fokus kepada gerakan dan amal Islami tanpa diganggu gugat lagi oleh emosi cinta.”

“Tetapi mengapa abang tidak mahu melihat bakal isteri pilihan guru? Tidak dibenarkan?”

“Itu keputusan personal saya. Guru memberi kebebasan. Mahu melihat dulu, silakan. Tidak mahu, tidak mengapa.”

“Dan abang memilih untuk tidak melihat. Kenapa?”

“Eh, kamu masih tegar dengan soalan asal? Begini, bekas kekasih abang dulu sangat cantik. Abang takut perasaan abang diganggu oleh godaan perbandingan. Takut-takut, bakal isteri tidak secantik kekasih lama. Jadi abang tekad, nikah terus tanpa melihat wajahnya.”

Saya terkesima sebentar dan dengan pantas saya bertanya kembali, “Tetapi abang akan terpaksa juga membuat perbandingan setelah bernikah bukan? Setelah nikah, abang akan melihat wajahnya. Dan ketika itu mahu tak mahu godaan perbandingan akan datang juga.”

Sekali lagi dia senyum. Matanya bersinar-sinar dengan keyakinan. Jauh di lubuk hati, saya mengakui, dia memang bercakap dari hatinya.

“Amat jauh bezanya antara membandingkan wanita lain dengan bakal wanita yang akan kita nikahi dengan wanita yang telah kita nikahi…”

Pendek dia menjawabnya, namun terus menusuk ke hati saya. Tanpa saya pinta dia menyambung, “Apabila seorang wanita telah kita nikahi dengan sah, dialah wanita yang diamanahkan oleh Allah untuk kita bimbing dan pimpin menuju syurga. Nasib kita dunia dan akhirat sangat berkait rapat dengannya. Dia adalah jodoh yang ditakdirkan buat kita. Dialah wanita yang pasrah dan menyerah kepada kita atas nama Allah. Pada waktu itu, bagaimanapun keadaan wajahnya, siapa pun dia, sudah menjadi soal kedua.”

Cantik Itu Relatif dan Subjektif

“Abang tidak takut, kalau tiba-tiba wajah atau keadaannya tidak serasi dengan cita rasa abang? Maksudnya, er… er… kita masih manusia bukan?” saya menduga hatinya.

Dia ketawa tiba-tiba.

“Ya, kita masih manusia. Tetapi kita bukan sekadar manusia. Kita hamba Allah dan khalifah. Isteri ialah teman kita untuk memikul amanah dua misi berat itu. Untuk melaksanakannya, kita bukan hanya perlukan kecantikan seorang wanita, tetapi ilmunya, akhlaknya, sifat pengorbanannya dan kesetiaannya.”

“Jadi, untuk itu kecantikan tidak penting?”

“Semua yang datang daripada Allah ada kebaikannya. Namun ingat, Allah lebih tahu apa yang baik untuk kita berbanding kita sendiri. Sesiapa yang tekad menjadi hamba Allah dan khalifah, pasti tidak akan dikecewakan-Nya. Orang yang baik berhak mendapat yang baik, bukan begitu?”

“Bukan yang cantik?” jolok saya lagi.

“Cantik itu relatif dan sangat subjektif. Beauty is in the eye of the beholder, bukankah begitu? Cita rasa manusia tentang kecantikan tidak sama. Malah ia juga berubah-ubah mengikut masa, usia dan keadaan. Tetapi yang baik itu mutlak dan lebih kekal sifatnya,” balasnya dengan yakin.

“Maksud abang?”

Dia diam. Termenung sebentar. Mungkin mencari-cari bahasa kata untuk menterjermahkan bahasa rasa.

“Kecantikan seorang wanita tidak sama tafsirannya. Orang budiman dan beriman, menilai kecantikan kepada budi dan akhlak. Pemuja hedonisme dan materialisme hanya fokus kepada kecantikan wajah dan daya tarikan seksual.”

Ketika saya ingin menyampuk, dia menambah lagi, “Cantik juga relatif mengikut keadaan. Jelitawan sekalipun akan nampak hodoh dan membosankan apabila asyik marah-marah dan merampus. Sebaliknya, wanita yang sederhana sahaja wajahnya akan nampak manis apabila sentiasa tersenyum, sedia membantu dan memahami hati suami.”

“Oh, betul juga tu!” kata saya. Teringat betapa ada seorang kenalan yang sering mengeluh tentang isterinya, “Sedap di mata tetapi sakit di hati…”

Wasilah Memilih Jodoh

“Bagaimana sebaik selepas berkahwin? Tak terkilan?” ujar saya dengan soalan nakal.

“Memang dari segi kecantikan, isteri abang sekarang biasa-biasa sahaja.”

“Maksudnya yang dulu lebih cantik?”

“Kamu ni, fikirannya masih berkisar dan berlegar-legar di situ juga. Ingat, yang biasa-biasa akan jadi luar biasa cantik apabila makin lama kita bersama dengannya. Itulah pengalaman abang. Hari ke hari, kecantikan isteri semakin terserlah. Entahlah, apa yang Allah ubah. Wajah itu atau hati ini?”

Wah, dia seakan berfalsafah! Kata-katanya punya maksud yang tersirat.

“Apa kaitannya dengan hati?” layan lagi. Ingin saya terus mencungkil mutiara hikmah daripadanya.

“Kalau hati kita indah, kita akan sentiasa melihat keindahan. Sebaliknya kalau hati rosak, keindahan tidak akan ketara, sekalipun sudah tampak di depan mata. Atau kita mungkin akan mudah bosan dengan apa yang ada lalu mula mencari lagi. Percayalah, orang yang rosak hatinya akan menjadi pemburu kecantikan yang fatamorgana!”

‘Ah, tentu dia bahagia kini!’ bisik hati saya sendiri.

“Apa panduan abang jika semua ini ingin saya tuliskan?”

“Pilihlah jodoh dengan dua cara. Pertama, jadilah orang yang baik. Insya-Allah, kita akan mendapat jodoh yang baik. Kedua, ikutlah pilihan orang yang baik. Orang yang baik akan memilih yang baik untuk jadi pasangan hidup kita.”

Jadi Orang Baik dan Pilihan Orang Baik

“Tapi bang, ramai yang menolak kaedah kedua. Kata mereka, mana mungkin kita menyerahkan hak kita memilih jodoh sendiri kepada ibu bapa, guru atau individu-individu lain sekalipun mereka orang yang baik-baik.”

“Tak mengapa. Kalau begitu, cuna cara pertama, jadilah orang yang baik.”

“Itu susah bang. Bukan mudah hendak menjadi orang yang baik. Ia satu proses yang panjang dan sukar menentukan apakah kita sudah jadi orang yang baik atau belum.”

Abang tersenyum lantas berkata, “Kamu menyoal bagi pihak orang lain bukan?”

Saya diam. Dalam senyap saya akui, inilah soalan yang sering diajukan oleh para remaja di luar sana.

“Kedua-dua cara itu boleh dijalankan serentak. Maksudnya, jika kita berusaha menjadi orang yang baik, insya-Allah, Allah akan kurniakan kita jodoh yang baik melalui pilihan orang baik. Ataupun kita berusaha menjadi orang yang baik sambil mencari orang yang baik sebagai jodoh, dan nanti pilihan kita itu direstui oleh orang yang baik!”

Wah, kedengaran berbelit-belit ayatnya, namun jika diamati ada kebenarannya.

“Tetapi ada juga mereka yang menolak pilihan orang yang baik bukan?”

“Kerana mereka bukan orang baik,” jawabnya pendek.

“Bukan, bukan begitu. Bolehkah terjadi orang baik menolak pilihan orang yang baik?”

“Ya, tidak mengapa. Tetapi mereka tetap menolaknya dengan cara yang baik. Itulah yang terjadi kepada seorang wanita yang bertanyakan haknya untuk menerima atau menolak jodoh yang dipilih oleh ibu bapanya kepada Rasulullah s.a.w.”

“Apa hikmah di sebalik kisah itu bang?”

“Kita boleh melihat persoalan ini dari dua dimensi. Pertama, mungkin ada anak-anak yang tidak baik menolak pilihan ibu bapa yang baik. Hikmahnya, Allah tidak mengizinkan orang yang baik menjadi pasangan orang yang tidak baik. Bukankah Allah telah berjanji, lelaki yang baik hanya untuk wanita yang baik dan begitulah sebaliknya?”

Saya terdiam. Benar-benar tenggelam dalam fikiran yang mendalam dengan luahan hikmah itu.

Jodoh Urusan Allah

“Dan mungkin juga anak itu orang baik tetapi ibu bapanya yang tidak baik itu memilih calon yang tidak baik sebagai pasangannya. Maka pada waktu itu syariat membenarkan si anak menolak pilihan ibu bapanya. Ya, itulah kaedah Allah untuk menyelamatkan orang baik daripada mendapat pasangan hidup yang jahat.”

“Bagaimana pula jika anak itu baik, dan ibu bapanya pun baik serta calon pilihan ibu bapanya juga baik, tetapi urusan pernikahan masih terbengkalai. Apa maknanya?” tanya saya inginkan penjelasan muktamad.

“Itulah takdir! Mungkin Allah menentukan ‘orang baik’ lain sebagai jodohnya. Sementara orang baik yang dicadangkan itu telah Allah tentukan dengan orang baik yang lain pula!”

Tiba-tiba saya teringat bagaimana Hafsah yang dicadangkan untuk menjadi calon isteri Sayidina Abu Bakar oleh ayahnya Sayidina Umar tetapi ditolak. Akhir Hafsah bernikah dengan Rasulullah s.a.w. Kebaikan sentiasa berlegar-legar dalam kalangan orang yang baik!

“Jodoh itu urusan Allah. Sudah dicatat sejak azali lagi. Tetapi prinsipnya tetap satu dan satu itulah yang wajib kita fahami. Orang yang baik berhak mendapat jodoh yang baik. Cuma sekali-sekala sahaja Allah menguji orang yang baik mendapat pasangan hidup yang jahat seperti Nabi Lut mendapat isteri yang jahat dan Asiyah yang bersuamikan Firaun laknatullah.”

“Apa hikmahnya kes yang berlaku sekali-sekala seperti itu?”

“Eh, abang bukan pakar hikmah! Tetapi mungkin Allah hendak meninggikan lagi darjah dan darjat orang baik ke tahap yang lebih tinggi.”

“Hikmah untuk kita?”

“Jika takdirnya pahit untuk kita, terimalah sebagai ubat. Katalah, kita sudah berusaha menjadi orang yang baik dan kita telah pun bernikah dengan pilihan orang yang baik, tetapi jika takdirnya pasangan kita bermasalah… bersabarlah. Katakan pada diri bahawa itulah jalan yang ditentukan oleh Allah untuk kita mendapat syurga. Maka rebutlah pahala sabar dan redha seperti Nabi Lut dan Nabi Ayyub atau kesabaran seorang isteri bernama Siti Asiah.”

Tok, tok, tok. Tiba-tiba pintu bilik tulis saya diketuk. Wajah watak “abang bayangan” saya pergi tiba-tiba. Tersedar saya daripada lamunan yang panjang. Wajah isteri terserlah di sebalik pintu. Sebalik melihatnya terdetak dalam hati sendiri, apakah aku telah menjadi insan yang baik untuk memperbaikinya?

Ah, hati dilanda bimbang mengingatkan makna satu ungkapan yang pernah saya tulis dahulu: “Yang penting bukan siapa isterimu semasa kau nikahinya, tetapi siapa dia setelah menikah denganmu. JAdi, janji Allah tentang lelaki yang baik untuk wanita yang baik bukan hanya berlaku pada awal pernikahan, tetapi di pertengahannya, penghujungnya malah sepanjang jalan menuju syurga!”

P/S

Nota hati: Pulang dari Kelantan hujung minggu lalu dengan badan yang sarat dengan keletihan. Namun hati dan fikiran sarat dengan iktibar dan pengajaran.

Berlegar di sekitar kuliah Hari Jumaat di bandar KB, mendengar. merasa dan melihat. Yang indah, bukan tanahnya, tetapi manusia yang menegakkan hukum Allah di atasnya.

Mungkin sesuatu yang kelihatan sederhana pada pandangan mata, tetapi sangat cantik bila dipandang dengan mata hati. Begitulah rasa hati… semoga kita semua kembali kepada Ilahi, kerana di sana ada keindahan yang hakiki dan abadi.

Berfikir tentang jodoh anak-anak, adalah satu cabaran yang dipenuhi pelbagai misteri. Ia sukar ditebak dan diduga. Namun, pesan saya cuma satu… untuk anak sendiri dan anak-anak di luar sana, ikutlah syariat, pasti selamat. Islam itu sejahtera. Tidak ada kebahagiaan tanpanya.

Ya, kesalahan dan kesilapan boleh berlaku - ada ampun, maaf dan taubat di situ. Namun mukmin sebenar tidak akan jatuh dalam lubang yang sama dua kali. Cukup hanya sekali… pertama, kerana kejahilan. Maka belajarlah. Kalau kedua, itu kerana kedegilan. Hubaya-hubaya, kekadang harga yang ditagih untuk ‘membetulkannya’ terlalu pedih dan menyakitkan.

Belajarlah melakukan yang benar dan betul buat pertama kali. Itu yang terbaik. Tetapi jika tidak, cubalah membetulkannya buat kali kedua, ketiga dan seterusnya. Jangan jemu untuk cuba melakukan yang terbaik, kerana kata bijak pandai: Kebaikan itu perlu dimulakan berkali-kali!