


Ya Allah.. Jika dulu aku angkuh di bumiMu, HidayahMu mematahkn keangkuhanku.. Membangunkn sifat malu.. Yg selama ini tersorok dlm diri.. Kutundukkn pandanganku.. Yg selama ini meliar.. Kutimbulkn kekeliruan pd dunia sekelilingku.. Ku ketepikn sgl tegurn sinis.. Ya Allah.. Jika dulu aku lalai dlm menunaikn hakMu, Terleka diriku dngn duniawi, Sesungguhnya kekuasaanMu paling agung, Kau sedarkan aku di saat aku hanyut.. Masih x terlmbt, Untuk satu perubahn,




Dalam perjalanan ke Najed, Abu Musa AI Asy’ari RA meriwayatkan, “Dalam perjalanan itu kami keluar bersama Rasulullah SAW . Waktu itu kami enam orang bergantian menunggang satu unta. Seorang naik unta secara bergantian. Sambil menunggu giliran kami harus menempuh perjalanan yang panjang, sehingga telapak kaki kami pecah-pecah dan kuku-kukunya pun tercabut. Waktu itu kami balut kaki kami dengan percaan kain sehingga aku menyebut peperangan itu perang DzaturRiqaa’ (Percaan Kain).”
Dalam riwayat Ibnu Ishaq dan Ahmad dari Jabir bin Abdullah RA ia menceritakan, “Kami berangkat bersama Rasulullah SAW pada perangDzatur Riqaa’. Pada kesempatan itu tertawanlah seorang wanita musyrikin. Setelah Rasulullah SAW berangkat pulang, suami wanita itu yang sebelumnya tidak ada di rumah baru saja pulang. Kemudian lelaki itu bersumpah tidak akan berhenti mencari sebelum dapat mengalirkan darah para sahabat Muhammad SAW. Lalu lelaki itu keluar mengikuti jejak perjalanan Rasulullah SAW.
Pada sebuah lorong di suatu lembah Rasulullah SAW bersama para sahabat berhenti. Kemudian beliau bersabda, “Siapakah di antara kalian yang bersedia menjaga kita malam ini?” Jabir berkata, “Maka majulah seorang dari Muhajirin dan seorang lagi dari Anshar lalu keduanya menjawab, ‘Kami siap untuk berjaga ya Rasulullah’. Nabi Muhammad SAW berpesan Jagalah kami di mulut lorong Jabir menceritakan waktu itu, Rasulullah S AW bersama para sahabat berhenti di lorong suatu lembah. “Ketika kedua orang sahabat itu ke mulut lorong, sahabat Anshar berkata kepada sahabat Muhajirun, `Pukul berapa engkau inginkan aku berjaga, apakah permulaan malam ataukah akhirnya?’ Sahabat Muhajirun menjawab;”Jagalah kami di awal malam. Kemudian sahabat Muhajirun itu berbaring tidur.
Sedangkan sahabat Anshar melakukan solat malam. Jabir berkata, datanglah lelaki musyrik itu dan ketika mengenali sahabat Anshar dia memahami bahwa sahabat itu sedang melakukan hirasah. Kemudian orang itu memanah sahabat Anshar itu dan tepat mengenai dirinya sebanyak tiga kali, lalu dicabutnya pula anak panah itu kemudian beliau rukuk dan sujud. Setelah itu dia membangunkan sahabat Muhajirun seraya berkata, ‘Bangunlah kerana aku telah dilukai.’ Jabir berkata, “Kemudian sahabat Muhajirun itu melompat mencari orang yang melukai sahabat Anshar itu.
Ketika orang musyrikin itu melihat keduanya ia sedar bahawa dirinya telah diketahui maka ia pun melarikan diri. Ketika sahabat Muhajirin mengetahui darah yang berlumuran di dada sahabat Anshar, ia berkata, ‘Subhanallah kenapa engkau tidak membangunkan aku dari tadi?’ Sahabat Anshar menjawab, Aku sedang membaca surah dan aku tidak ingin memutusnya. Namun, setelah orang itu berkali-kali memanahku barulah aku rukuk dan memberitahukanmu. Demi Allah SWT kalau bukan kerana takut mengabaikan tugas penjagaan yang diperintahkan Rasulullah SAW kepadaku niscaya nafasku akan berhenti sebelum aku membatalkan shalat.”‘
Kesetiaan Memenuhi Seruan Da’wah, Indikasi Sikap Kesungguhan Da’ie
Perjalanan da’wah bukanlah perjalanan yang banyak ditaburi oleh kegemerlapan dan kesenangan melainkan ia merupakan perjalanan panjang yang penuh tentangan dan rintangan berat. Telah banyak kita dapati sejarah orang¬orang terdahulu yang merasakan perjalanan da’wah ini. Ada yang disiksa, ada pula yang harus meninggalkan kaum kerabatnya ada pula yang diusir dari kampung halamannya. Dan deretan kisah perjuangan lainnya yang banyak tersebar bukti dari pengorbanannya dalam jalan da’wah ini. Mereka telah merasakan dan sekaligus membuktikan cinta dan kesetiaan mereka terhadap da’wah. Abu Musa Al-As’ari dan para sahabat lainnya – Semoga Allah subhanahu wa ta’ala meredhai mereka yang telah merasakannya sehingga kaki-kaki mereka terkoyak kulitnya dan sebahagian kuku kaki mereka tanggal.
Namun, mereka mengharungi perjalanan itu tanpa mengeluh sedikitpun bahkan mereka malu untuk menceritakannya kerana keikhlasan mereka dalam perjuangan ini. Keikhlasan membuat mereka gigih dalam pengorbanannya dan menjadi tinta emas sejarah umat da’wah ini. Pengorbanan yang telah mereka berikan dalam perjalanan da’wah ini menjadi suri teladan bagi generasi sesudahnya. Dengan izin Allah, atas darah dan air mata mereka, maka da’wah ini tumbuh bersemi dan generasi berikutnya menuai hasilnya dengan gemilang. Wilayah Islam telah tersebar ke seluruh pelosok dunia. Populasi umat Islam semakin membesar. Semua itu merupakan kurnia yang diberikan Allah SWT melalui kesungguhan dan kesetiaan para pendahulu da’wah ini. Semoga Allah meredhai mereka dan mereka pun redha kepada-Nya. Mereka telah mengalami langsung (directly) apa yang difirmankan Allah SWT dalam AI Qur’an surat At Taubah ayat 42, berikut:“Kalau yang kamu serukan kepada mereka itu keuntungan yang mudah diperoleh dan perjalanan yang tidak berapa jauh, pastilah mereka mengikutimu, tetapi tempat yang dituju itu amat jauh terasa oleh mereka. Mereka akan bersumpah dengan (nama) Allah: ‘;Jika kami sanggup tentulah kami berangkat bersama¬samamu” Mereka membinasakan diri mereka sendiri dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya mereka benar-benarorang-orang yang berdusta”. Mereka juga telah melihat manusia-manusia yang dapat bertahan dalam mengharungi perjalanan yang berat itu. Hanya kesetiaanlah yang dapat tabah meniti perjalanan da’wah ini. Kesetiaan yang menjadikan pemiliknya sabar dalam menghadapi cubaan dan ujian. Menjadikan mereka optimis menghadapi kesulitan dan siap berkorban untuk meraih kejayaan.
Kesetiaan yang menghantarkan jiwa-jiwa patriotik untuk berada pada barisan terdepan dalam perjuangan ini. Kesetiaan yang membuat pelakunya berbahagia dan sangat menikmati beban hidupnya. Setia dalam kesempitan dan kesukaran, demikian pula setia dalam kelapangan dan kemudahan. Sebaliknya orang-orang yang lemah jiwanya dalam perjuangan ini tidak akan dapat bertahan lama. Mereka mengeluh atas beratnya perjalanan yang mereka tempuh. Mereka pun menolak untuk menunaikannya dengan pelbagai alasan agar mereka diizinkan untuk tidak ikut serta. Mereka pun berat hati berada dalam perjuangan ini dan akhirnya berguguran satu persatu sebelum mereka sampai pada tujuan perjuangan.
Penyakit wahn (cinta dunia dan takut mati) telah menyerang mental mereka yang rapuh sehingga mereka tidak dapat menerima kenyataan pahit sebagai risiko dan sunnah da’wah ini. Malah mereka menggugatnya lantaran anggapan mereka bahawa perjuangan da’wah tidaklah harus mengalami kesulitan. “Sesungguhnya yang akan meminta izin kepadamu, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan hati mereka ragu-ragu, kerana itu mereka selalu bimbang dalam keragu-raguannya. Dan jika mereka mahu berangkat, tentulah mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu, tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka, maka Allah melemahkan keinginan mereka, dan dikatakan kepada mereka: “Tinggallah kamu bersama orang-orang yang tinggal itu.” (At Taubah [9]: 45 – 46)
Kesetiaan merupakan indikasi sikap kesungguhan da’ie da’wah. Sikap ini membuat mereka sentiasa siap-siaga menjalankan tugas yang terpikul di pundaknya. Mereka pun dapat menunaikan tugas dengan sebaik-baiknya. Bila ditugaskan sebagai prajurit terdepan dengan segala akibat yang akan dihadapinya ia senantiasa berada pada posnya tanpa ingin meninggalkannya sekejap pun. Atau bila ditempatkan pada bahagian belakang, ia akan berada pada tempatnya tanpa berpindah-pindah. Sebagaimana yang disebutkan Rasulullah saw. dalam beberapa riwayat tentang prajurit yang baik.
Sebagaimana kisah akh (saudara) yang tempatnya bekerja sudah berada di kota untuk memberikan ceramah kemudian berpindah tempat lagi untuk mengisi daurah dari waktu ke waktu secara marathon, berpindah-pindah dari satu kota ke kota untuk menunaikan amanah da’wah. Sesi menunaikan tugas dengan sebaik-baiknya merupakan orang yang pertama kali datang tempatnya bekerja malah ia yang membuk pintu gerbangnya. Pernah ia mengalami keletihan hingga tertidur di sofa rumah Zainab Al Ghazali. Melihat keadaan tubuhnya yang kepenatan itu, tuan rumah membiarkan tamunya tertidur sampai bangun. Setelah menyampaikan amanah untuk Zainab Al Ghazali, Abdul Fattah Abu Ismail minta izin untuk ke kota lainnya. Melihatkan keletihan yang dialaminya, Zainab Al Ghazali memberikan tambang untuk naik teksi. Abdul Fattah Abu Ismail mengembalikannya sambil mengatakan “Da’wah ini tidak akan dipikul oleh orang-orang yang manja”. Zainab pun menjawab, “Saya sering ke mana-mana dengan teksi dan kenderaan-kenderaan mewah tapi tetap dapat memikul da’wah ini dan saya tidak menjadi orang yang manja terhadap da’wah ini, kerana itu gunalah duit tambang ini, tubuh letih dan engkau memerlukan istirehat sejer la pun menjawab, “Berbahagialah ibu, ibu berhasil menghadapi ujian Allah SWT dengan kenikmatan-kenikmatan itu. Namun, khawatir saya tidak dapat menghadap sebagaimana sikap ibu, terima kasih kebaikan ibu, biarlah saya naik kenderaan umum saja.”
Keyakinan Pada Janji-Janji Allah subhanahu wa ta’ala
Orang-orang yang telah membukti kesetiaannya pada da’wah lantaran keyakinan mereka terhadap janji-janji Allah subhanahu wa ta’ala telah banyak memberikan janji-Nya pada orang-orang yang beriman yang setia pada jalan da’wah ini berupa pelbagai anugerah-Nya. Sebagaimana yang terdapat dalam Al-Qur’an: “Hai orang-orang yang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqaan dan menghapuskan segala kesalahan-kesalahanmu dan mengampuni (dosa-dosa) mu. Dan Allah mempunyai karunia yang besar”. (Al Anfal [8]: 29)
Dengan janji Allah SWT tersebut orang-orang beriman tetap bertahan mengarungi jalan da’wah ini. Dan mereka pun tahu bahawa perjuangan yang berat itu sebagai kunci untuk mendapatkannya. Semakin berat perjuangan ini semakin besar janji yang diberikan Allah SWT kepadanya. Kesetiaan yang bersemayam dalam diri mereka itulah yang membuat mereka tidak akan pernah menyalahi janji-Nya dan mereka pun tidak akan pernah mahu mengubah janji kepada-Nya.
“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak merubah (janjinya).” (Al Ahzab (33]: 23) Seorang pejuang Palestina yang telah berlama-lama meninggalkan kampung halaman dan keluarganya untuk membuat mencari dukungan dunia dan dana pernah diwawancarai. ‘Apa yang membuat Anda dapat berlama-lama meninggalkan keluarga dan kampung halaman.” Jawabnya adalah kerana perjuangan, dan dengan perjuangan itu kemuliaan hidup mereka lebih bererti serta untuk masa depan bangsa dan tanah airnya. “Kalau bukan kerana da’wah dan perjuangan kami pun mungkin tidak akan dapat bertahan,” lirihnya.
Kesabaran Modal Kesetiaan
Da’ie da’wah sangat menyakini bahawa kesabaran yang ada pada dirinya yang membuat mereka kuat menghadapi pelbagai rintangan da’wah. Bila dibandingkan apa yang kita lakukan serta yang kita dapatkan sebagai risiko perjuangan di hari ini dengan keadaan orang-orang yang terdahulu dalam perjalanan da’wah ini belumlah seberapa. Pengorbanan kita di hari ini masih sebatas pengorbanan waktu untuk da’wah. Pengorbanan sebahagian kecil dari harta kita yang banyak. Dan bentuk pengorbanan yang kecil-kecil lainnya yang telah kita lakukan.
Cuba lihat pengorbanan orang-orang terdahulu, ada yang disisir dengan sisir besi, ada yang digergaji, ada yang diikat dengan empat ekor kuda yang berlawanan arah lalu kuda itu dipukul untuk lari sekencang-kencang hingga robeklah orang itu. Ada pula yang dibakar dengan tungku yang berisi minyak panas. Mereka dapat menerima risiko kerana kesabaran yang ada pada dirinya. Kesabaran sebagai kuda-kuda pertahanan orang-orang beriman dalam meniti perjalanan ini. Bekal kesabaran mereka tidak pernah berkurang sedikit pun kerana keikhlasan dan kesetiaan mereka pada Allah SWT
“Dan berapa banyak nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertaqwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar.” (Ali Imran [3]: 146)
Bila kita memandang kehidupan generasi pilihan, kita akan temukan kisah-kisah brilian yang telah menyuburkan da’wah ini. Muncullah pertanyaan besar yang harus kita tujukan pada diri kita saat ini. Apakah kita dapat menyemai da’wah ini menjadi subur dengan perjuangan yang kita lakukan sekarang ini ataukah kita akan menjadi generasi yang hilang dalam sejarah da’wah ini? Ingat, da’wah ini tidak akan pernah dapat dipikul oleh orang-orang yang manja. Kesungguhan da’ie merupakan kenderaan yang akan menghantarkan kepada kejayaan da’wah ini.
Wallahu ‘alam

Telah ku katakan sebelumnya, dipercayai lebih utama daripada dicintai. Dan itulah juga ungkapan yang kerap diulang-ulang oleh mereka yang arif tentang cinta. Ramai yang kurang bersetuju dengan kata-kata ini. Masakan begitu, detik hati kita.
Teringat kembali detik mengetahui cinta kita telah diterima oleh si dia… Ah, gembiranya saat itu. Dunia ini seakan tersenyum. Bulan, mentari dan bintang seakan turut bersama kita meraikan detik yang sangat indah itu. Bukankah dicintai lebih utama daripada dipercayai? Hati kita berkata-kata.
Musim berlalu. Alam rumah tangga yang kita bina bersamanya menongkah arus ujian. Pelbagai suka duka, pahit manis diharungi bersama. Kata orang, semakin tinggi pokok yang kita panjat, semakin kuat pula angin yang menggoyang. Maksudnya, semakin tinggi puncak kehidupan ini kita daki maka semakin banyak dan hebat ujian yang menggugah hati. Warna sebenar (true colours) kita dan pasangan kita akan terserlah. Pada ketika itu segala yang pahit, masam, busuk akan terserlah…
Cinta semata-mata tidak akan mampu mempertahankan keharmonian rumah tangga. Perkahwinan dimulakan oleh cinta tetapi disempurnakan oleh tanggung jawab. Cinta itu satu rasa yang bertunjangkan perasaan. Perasaan tanpa kekuatan jiwa dan kematangan berfikir akan goyah apabila berdepan dengan ujian. “Perasaan” adalah hamba yang baik tetapi tuan yang sangat buruk. Justeru, jika ingin selamat, pastikan perasaan “bekerja” untuk kita, bukan sebaliknya.
Akan tiba masanya, sesuatu yang kita lihat indah dahulu tidak indah lagi kini. Jika kita hanya bergantung kepada perasaan, cinta kita akan tercalar. Pada ketika itu cinta memerlukan tanggung jawab dan tanggung jawab menuntut satu kepercayaan. Ketika cinta mula goyah di pentas rumah tangga, tanggung jawab akan datang menyelamatkan “pertunjukan” dengan peranan yang lebih berkesan.
Cuba bayangkan, ketika isterimu hamil, muntah-muntah, rambut kusut dan badannya tidak terjaga lagi kerana menanggung derita tempoh mengandung, ketika mulutnya mula becok mengasuh dan mengelolakan anak yang berderet selang setahun, atau ketika suamimu termenung memikirkan belanjawan rumah yang semakin meningkat atau keceriaannya semakin menurun gara-gara sibuk mengejar tugasan yang bertali arus… Bagaimana? Masih berserikah wajah sidia seperti yang kita lihat pada malam pertama?
Atau lebih menguji lagi apabila umur perkahwinan semakin lanjut dan kita sudah mencecah usia senja. Pada saat itu darah tinggi, diabetes, tahap kolesterol, obesiti dan malam-macam penyakit mula bertamu. Mungkin kita selamat, isteri pula yang menghidapnya. Bagaimana? Sanggupkah kita menjaganya dengan setia? Membawanya ke hospital memenuhi rutin rawatan, memastikan segala ubat-ubat dimakannya menepati jadual, atau lebih “ekstrem” lagi terpaksa menyuap makan-minumnya ketika dia sudah terbaring kesakitan serta menukar kain lampin kerana dia sudah tidak mampu mengurus diri?
Cinta memang hebat, tetapi ia tidak dapat menandingi tanggung-jawab. Cinta yang hebat ialah cinta yang ditunjangi tangung jawab. Cinta itu untuk memberi bukan untuk menerima. Lafaz, “aku terima nikah,” oleh kita sebagai suami musim lalu bukan bererti kita menerima sebaliknya untuk memberi. Kita memikul tanggung jawab untuk memberi kasih-sayang, perhatian, pembelaan, didikan dan segalanya…
Pun begitu bagi si isteri… penerimaan mu sebagai pasangan hidupnya bukan ertinya untuk kau menerima tetapi untuk memberi – memberi kesetiaan, kepatuhan, pembelaan dan seluruh jiwa raga mu untuknya. Kau telah membuat satu aku janji yang paling suci dan tinggi dalam hidup mu, bukan untuk seseketika tetapi untuk selama-lamanya. Bukan hanya ketika suami mu bertubuh kekar, tetapi sehinggalah dia terlantar. Bukan hanya ketika rambutnya hitam tersisir rapi, tetapi hingga rambutnya putih dan mungkin tidak tumbuh-tumbuh lagi!
Itu baru ujian luaran. Belum lagi ujian dalaman yang berbentuk cemburu, jemu, marah, curiga dan lain-lain “virus” perhubungan. Berapa banyak hubungan yang terputus atau tinggal nyawa-nyawa ikan kerana hilangnya kepercayaan.
“Aku cintakannya, tetapi aku curiga apakah dia setia dengan ku?”
“Tergodakah dia bila di belakangku?”
Itulah contoh dialog hati yang merasuk bila ada cinta tetapi kurang ada percaya. Fobia dan trauma ini sering melanda rumah tangga. Ia akan menyebabkan hilang bahagia.
Pernah anda lihat si suami yang “diganggu” panggilan telefon oleh isterinya setiap selang 15 minit sekali? Aduh rimasnya. Betulkah itu kerana cinta atau kerana curiga. Pada hal cinta itu membebaskan bukan mengawal. Jika kita benar cintakan suami atau isteri, dan cinta itu ditunjangi oleh kepercayaan, kita tidak akan mengawalnya bahkan kita akan membebaskannya. Terbanglah ke mana kau suka, insya-Allah kau akan kembali jua. Justeru hati mu… tetap di sini, di hati ku!
Ada si suami yang curi-curi memeriksa “inbox” dan “sent” telefon bimbit isteri kalau-kalau ada SMS yang mencurigakan? Ada pula isteri yang menyelongkar setiap inci kereta suami takut-takut ada “kesan-kesan” tinggalan perempuan lain. Pernah saya dengar ada suami yang memusnahkan segala resit, bil, surat-surat kecil, dan apa jua dokumen-dokumen picisan dalam poket dan beg duitnya sebelum pulang ke rumah takut “disoal siasat” oleh isterinya?
“Ini bil makan, abang makan dengan siapa?”
“Lain macam sahaja mesranya SMS ini, ada apa-apa ke ni?”
“Eh, banyak yang abang beli ni. Tetapi kenapa nampak sedikit sahaja yang dibawa pulang ke rumah?”
Itulah soalan-soalan isteri yang menyebabkan suami terkial-kial menjawabnya. Pada suami semua itu remeh temeh, tetapi tidak pada isteri yang tidak percaya, semua itu boleh dijadikan modal “perang besar”. Kalau si suami disyaki ada di tempat yang tidak sepatutnya ada atau pada waktu yang tidak sesuai, siap sedialah menghadapi hukuman jika gagal memberikan “alibi”!
Itulah gara-gara sama ada isteri tidak mempercayai suami atau suami tidak mempercayai isteri atau kedua-duanya sudah saling tidak mempercayai! Bukan kerana tidak ada cinta tetapi kerana hadirnya sebuah curiga akibat hilang rasa percaya. Sebab itu mengikut kajian, penceraian banyak berlaku bukan sahaja pada pasangan yang sudah kehilangan cinta tetapi pada pasangan yang terlalu cinta.
Tidak percayakan seseorang disebabkan dua faktor. Pertama, kita belum benar-benar mengenalinya. Kedua, kerana kita telah benar-benar mengenalinya. Jika disebabkan faktor yang pertama, jalan terbaik ialah kenalilah pasangan anda dengan lebih mendalam. Berkenalan kali pertama dahulu (seawal usia perkahwinan) adalah untuk menumbuhkan bibit-bibit cinta. Tetapi perkenalan kali kedua, ketiga dan seterusnya yakni setelah usia perkahwinan meningkat adalah untuk menyuburkan bibit-bibit percaya. Adalah salah sekali kalau kita beranggapan yang kita telah kenal pasangan kita dan terus menghentikan proses perkenalan. Sedangkan proses perkenalan dalam rumah tangga adalah “on going” (berterusan) sifatnya.
Kenal itu sangat berkait dengan rasa cinta. Dan cinta sejati dalam sebuah rumah tangga adalah dibina atas perkenalan bukan sahaja dengan kebaikan pasangan kita tetapi juga dengan keburukannya. Ya, kita sanggup menerima bukan sahaja yang indah tetapi juga yang hodoh pada wajah batin pasangan kita. Keburukannya akan kita cuba sama-sama atasi dan jika tidak, kita terima seadanya kerana kita sedar kita berkahwin dengan manusia bukan malaikat.
Kita akan terus mempercayainya walau apa pun keadaan. Kita mengingatkan bila dia terlupa dan membantunya sewaktu dia ingat. Jangan sekali-kali hilang kepercayaan. Selagi kita bertekad meneruskan perkahwinan hingga ke akhir hayat, pupuklah kepercayaan. Kepercayaan itu akan melahirkan tanggung jawab dan tanggung jawab adalah oksigen cinta. Oksigen itulah yang akan memberi stamina kepada cinta untuk terus kembara dari dunia hingga ke syurga.
Jika anda bertanya bagaimana memupuk kepercayaan? Jawabnya, kembalilah kepada kepercayaan-kepercayaan yang asas dan teras. Apa lagi jika bukan Rukun Iman? Binalah semua jenis percaya di atas enam kepercayaan itu. Jika suami dan isteri percayakan Allah, dan sama-sama berpegang kepada kehendak-Nya, maka mereka akan saling mempercayai antara satu sama lain. Percayalah kepercayaan kepada Allah itu adalah simpulan yang mengikat kepercayaan sesama manusia.
Sebab itulah kepercayaan juga disebut sebagai akidah – ertinya simpulan. Simpulan yang mempertautkan segala kebaikan. Ya, kepercayaan kita kepada Allah akan menyebabkan pasangan kita mempercayai kita.
“Ah, suami ku jauh. Tetapi aku percayakannya. Dia adalah mukmin yang teguh agama.”
“Aduh lamanya kita berpisah. Namun isteri ku, iman akan menjaga mu…”
Bila hancur sebuah cinta bererti hancurlah satu kepercayaan. Bila hancur kepercayaan bererti hancurlah iman. Wahai suami, wahai isteri… sekali lagi ku tegaskan inilah oksigen cinta. Dan bagi semua yang masih belum mengenal cinta (antara lelaki dengan wanita), burulah sesuatu yang lebih indah daripada dicintai… itulah dipercayai!
Bukankah nabi Muhammad itu lebih dahulu mendapat gelar ”Al Amin” (dipercayai) sebelum menemui srikandi cintanya Siti Khadijah?
Jodoh seperti rezeki, ia telah ditentukan. Namun, kita tidak tahu apa yang telah ditentukan oleh Allah. Dengan berpegang pada hakikat itu kita diperintahkan-Nya agar berusaha.
Carilah jodoh yang baik, carilah rezeki yang baik dengan jalan yang baik juga. Siapa jodoh kita? Berapa banyak rezeki kita? Dan bila? Itu bukan kerja kita. Itu ketentuan Allah. Milik kita hanya usaha.
Jadi, berusahalah dengan baik, Allah pasti tidak akan mengecewakan kita. Wajib menerima takdir tidak menolak kewajiban untuk mentadbir.
“Dulu saya tidak pernah melihat wajah bakal isteri saya,” kata seorang abang yang sangat saya hormati.
“Pelik tu bang. Bagaimana jodoh abang diaturkan?”
“Ikut pilihan guru agama yang mengajar saya,” jawabnya pendek.
“Mengapa tidak mahu melihat wajahnya? Kan itu dibenarkan oleh syariat? Barangkali sebab waktu itu tidak ada ruangan sosial seperti Facebook danTwitter?” gurau saya.
“Memang belum ada. Tetapi ada cara lain. Gambar dan cara-cara yang lain ada, tetapi sebenarnya ada sebab lain…”
Dalam diam, saya rasa hairan. Wajahnya saya tenung. Dia orang yang sangat saya hormati. Sahsiah dan kepimpinannya sangat menawan hati. Tentu ada sebab yang solid untuk dia bersikap demikian.
“Sebelum aktif sebagai aktivis Islam seperti sekarang, saya pernah menjalin hubungan cinta. Dia teman lama sejak di sekolah rendah lagi,” jelasnya dengan tenang.
“Habis mengapa putus?”
“Kami putus kerana dia ada jalan tersendiri. Saya ajak bersama saya dalam perjuangan Islam ini tetapi dia selesa dengan gayanya. Lepas, bebas. Jadi kami berpisah setelah 10 tahun bercinta.”
Wah, ini kisah cinta yang dramatik! Saya tidak sangka sama sekali dia yang selama ini kelihatan begitu iltizam, tegas dan berwibawa pernah melalui tragedi cinta.
Isteri Amanah
“Itu kisah sebelumnya. Tetapi bagaimana dengan kisah pertemuan dengan isteri abang sekarang?” kata saya beralih kepada maksud asal pertanyaan.
“Setelah putus, abang terus pinta guru agama carikan jodoh. Ingin fokus kepada gerakan dan amal Islami tanpa diganggu gugat lagi oleh emosi cinta.”
“Tetapi mengapa abang tidak mahu melihat bakal isteri pilihan guru? Tidak dibenarkan?”
“Itu keputusan personal saya. Guru memberi kebebasan. Mahu melihat dulu, silakan. Tidak mahu, tidak mengapa.”
“Dan abang memilih untuk tidak melihat. Kenapa?”
“Eh, kamu masih tegar dengan soalan asal? Begini, bekas kekasih abang dulu sangat cantik. Abang takut perasaan abang diganggu oleh godaan perbandingan. Takut-takut, bakal isteri tidak secantik kekasih lama. Jadi abang tekad, nikah terus tanpa melihat wajahnya.”
Saya terkesima sebentar dan dengan pantas saya bertanya kembali, “Tetapi abang akan terpaksa juga membuat perbandingan setelah bernikah bukan? Setelah nikah, abang akan melihat wajahnya. Dan ketika itu mahu tak mahu godaan perbandingan akan datang juga.”
Sekali lagi dia senyum. Matanya bersinar-sinar dengan keyakinan. Jauh di lubuk hati, saya mengakui, dia memang bercakap dari hatinya.
“Amat jauh bezanya antara membandingkan wanita lain dengan bakal wanita yang akan kita nikahi dengan wanita yang telah kita nikahi…”
Pendek dia menjawabnya, namun terus menusuk ke hati saya. Tanpa saya pinta dia menyambung, “Apabila seorang wanita telah kita nikahi dengan sah, dialah wanita yang diamanahkan oleh Allah untuk kita bimbing dan pimpin menuju syurga. Nasib kita dunia dan akhirat sangat berkait rapat dengannya. Dia adalah jodoh yang ditakdirkan buat kita. Dialah wanita yang pasrah dan menyerah kepada kita atas nama Allah. Pada waktu itu, bagaimanapun keadaan wajahnya, siapa pun dia, sudah menjadi soal kedua.”
Cantik Itu Relatif dan Subjektif
“Abang tidak takut, kalau tiba-tiba wajah atau keadaannya tidak serasi dengan cita rasa abang? Maksudnya, er… er… kita masih manusia bukan?” saya menduga hatinya.
Dia ketawa tiba-tiba.
“Ya, kita masih manusia. Tetapi kita bukan sekadar manusia. Kita hamba Allah dan khalifah. Isteri ialah teman kita untuk memikul amanah dua misi berat itu. Untuk melaksanakannya, kita bukan hanya perlukan kecantikan seorang wanita, tetapi ilmunya, akhlaknya, sifat pengorbanannya dan kesetiaannya.”
“Jadi, untuk itu kecantikan tidak penting?”
“Semua yang datang daripada Allah ada kebaikannya. Namun ingat, Allah lebih tahu apa yang baik untuk kita berbanding kita sendiri. Sesiapa yang tekad menjadi hamba Allah dan khalifah, pasti tidak akan dikecewakan-Nya. Orang yang baik berhak mendapat yang baik, bukan begitu?”
“Bukan yang cantik?” jolok saya lagi.
“Cantik itu relatif dan sangat subjektif. Beauty is in the eye of the beholder, bukankah begitu? Cita rasa manusia tentang kecantikan tidak sama. Malah ia juga berubah-ubah mengikut masa, usia dan keadaan. Tetapi yang baik itu mutlak dan lebih kekal sifatnya,” balasnya dengan yakin.
“Maksud abang?”
Dia diam. Termenung sebentar. Mungkin mencari-cari bahasa kata untuk menterjermahkan bahasa rasa.
“Kecantikan seorang wanita tidak sama tafsirannya. Orang budiman dan beriman, menilai kecantikan kepada budi dan akhlak. Pemuja hedonisme dan materialisme hanya fokus kepada kecantikan wajah dan daya tarikan seksual.”
Ketika saya ingin menyampuk, dia menambah lagi, “Cantik juga relatif mengikut keadaan. Jelitawan sekalipun akan nampak hodoh dan membosankan apabila asyik marah-marah dan merampus. Sebaliknya, wanita yang sederhana sahaja wajahnya akan nampak manis apabila sentiasa tersenyum, sedia membantu dan memahami hati suami.”
“Oh, betul juga tu!” kata saya. Teringat betapa ada seorang kenalan yang sering mengeluh tentang isterinya, “Sedap di mata tetapi sakit di hati…”
Wasilah Memilih Jodoh
“Bagaimana sebaik selepas berkahwin? Tak terkilan?” ujar saya dengan soalan nakal.
“Memang dari segi kecantikan, isteri abang sekarang biasa-biasa sahaja.”
“Maksudnya yang dulu lebih cantik?”
“Kamu ni, fikirannya masih berkisar dan berlegar-legar di situ juga. Ingat, yang biasa-biasa akan jadi luar biasa cantik apabila makin lama kita bersama dengannya. Itulah pengalaman abang. Hari ke hari, kecantikan isteri semakin terserlah. Entahlah, apa yang Allah ubah. Wajah itu atau hati ini?”
Wah, dia seakan berfalsafah! Kata-katanya punya maksud yang tersirat.
“Apa kaitannya dengan hati?” layan lagi. Ingin saya terus mencungkil mutiara hikmah daripadanya.
“Kalau hati kita indah, kita akan sentiasa melihat keindahan. Sebaliknya kalau hati rosak, keindahan tidak akan ketara, sekalipun sudah tampak di depan mata. Atau kita mungkin akan mudah bosan dengan apa yang ada lalu mula mencari lagi. Percayalah, orang yang rosak hatinya akan menjadi pemburu kecantikan yang fatamorgana!”
‘Ah, tentu dia bahagia kini!’ bisik hati saya sendiri.
“Apa panduan abang jika semua ini ingin saya tuliskan?”
“Pilihlah jodoh dengan dua cara. Pertama, jadilah orang yang baik. Insya-Allah, kita akan mendapat jodoh yang baik. Kedua, ikutlah pilihan orang yang baik. Orang yang baik akan memilih yang baik untuk jadi pasangan hidup kita.”
Jadi Orang Baik dan Pilihan Orang Baik
“Tapi bang, ramai yang menolak kaedah kedua. Kata mereka, mana mungkin kita menyerahkan hak kita memilih jodoh sendiri kepada ibu bapa, guru atau individu-individu lain sekalipun mereka orang yang baik-baik.”
“Tak mengapa. Kalau begitu, cuna cara pertama, jadilah orang yang baik.”
“Itu susah bang. Bukan mudah hendak menjadi orang yang baik. Ia satu proses yang panjang dan sukar menentukan apakah kita sudah jadi orang yang baik atau belum.”
Abang tersenyum lantas berkata, “Kamu menyoal bagi pihak orang lain bukan?”
Saya diam. Dalam senyap saya akui, inilah soalan yang sering diajukan oleh para remaja di luar sana.
“Kedua-dua cara itu boleh dijalankan serentak. Maksudnya, jika kita berusaha menjadi orang yang baik, insya-Allah, Allah akan kurniakan kita jodoh yang baik melalui pilihan orang baik. Ataupun kita berusaha menjadi orang yang baik sambil mencari orang yang baik sebagai jodoh, dan nanti pilihan kita itu direstui oleh orang yang baik!”
Wah, kedengaran berbelit-belit ayatnya, namun jika diamati ada kebenarannya.
“Tetapi ada juga mereka yang menolak pilihan orang yang baik bukan?”
“Kerana mereka bukan orang baik,” jawabnya pendek.
“Bukan, bukan begitu. Bolehkah terjadi orang baik menolak pilihan orang yang baik?”
“Ya, tidak mengapa. Tetapi mereka tetap menolaknya dengan cara yang baik. Itulah yang terjadi kepada seorang wanita yang bertanyakan haknya untuk menerima atau menolak jodoh yang dipilih oleh ibu bapanya kepada Rasulullah s.a.w.”
“Apa hikmah di sebalik kisah itu bang?”
“Kita boleh melihat persoalan ini dari dua dimensi. Pertama, mungkin ada anak-anak yang tidak baik menolak pilihan ibu bapa yang baik. Hikmahnya, Allah tidak mengizinkan orang yang baik menjadi pasangan orang yang tidak baik. Bukankah Allah telah berjanji, lelaki yang baik hanya untuk wanita yang baik dan begitulah sebaliknya?”
Saya terdiam. Benar-benar tenggelam dalam fikiran yang mendalam dengan luahan hikmah itu.
Jodoh Urusan Allah
“Dan mungkin juga anak itu orang baik tetapi ibu bapanya yang tidak baik itu memilih calon yang tidak baik sebagai pasangannya. Maka pada waktu itu syariat membenarkan si anak menolak pilihan ibu bapanya. Ya, itulah kaedah Allah untuk menyelamatkan orang baik daripada mendapat pasangan hidup yang jahat.”
“Bagaimana pula jika anak itu baik, dan ibu bapanya pun baik serta calon pilihan ibu bapanya juga baik, tetapi urusan pernikahan masih terbengkalai. Apa maknanya?” tanya saya inginkan penjelasan muktamad.
“Itulah takdir! Mungkin Allah menentukan ‘orang baik’ lain sebagai jodohnya. Sementara orang baik yang dicadangkan itu telah Allah tentukan dengan orang baik yang lain pula!”
Tiba-tiba saya teringat bagaimana Hafsah yang dicadangkan untuk menjadi calon isteri Sayidina Abu Bakar oleh ayahnya Sayidina Umar tetapi ditolak. Akhir Hafsah bernikah dengan Rasulullah s.a.w. Kebaikan sentiasa berlegar-legar dalam kalangan orang yang baik!
“Jodoh itu urusan Allah. Sudah dicatat sejak azali lagi. Tetapi prinsipnya tetap satu dan satu itulah yang wajib kita fahami. Orang yang baik berhak mendapat jodoh yang baik. Cuma sekali-sekala sahaja Allah menguji orang yang baik mendapat pasangan hidup yang jahat seperti Nabi Lut mendapat isteri yang jahat dan Asiyah yang bersuamikan Firaun laknatullah.”
“Apa hikmahnya kes yang berlaku sekali-sekala seperti itu?”
“Eh, abang bukan pakar hikmah! Tetapi mungkin Allah hendak meninggikan lagi darjah dan darjat orang baik ke tahap yang lebih tinggi.”
“Hikmah untuk kita?”
“Jika takdirnya pahit untuk kita, terimalah sebagai ubat. Katalah, kita sudah berusaha menjadi orang yang baik dan kita telah pun bernikah dengan pilihan orang yang baik, tetapi jika takdirnya pasangan kita bermasalah… bersabarlah. Katakan pada diri bahawa itulah jalan yang ditentukan oleh Allah untuk kita mendapat syurga. Maka rebutlah pahala sabar dan redha seperti Nabi Lut dan Nabi Ayyub atau kesabaran seorang isteri bernama Siti Asiah.”
Tok, tok, tok. Tiba-tiba pintu bilik tulis saya diketuk. Wajah watak “abang bayangan” saya pergi tiba-tiba. Tersedar saya daripada lamunan yang panjang. Wajah isteri terserlah di sebalik pintu. Sebalik melihatnya terdetak dalam hati sendiri, apakah aku telah menjadi insan yang baik untuk memperbaikinya?
Ah, hati dilanda bimbang mengingatkan makna satu ungkapan yang pernah saya tulis dahulu: “Yang penting bukan siapa isterimu semasa kau nikahinya, tetapi siapa dia setelah menikah denganmu. JAdi, janji Allah tentang lelaki yang baik untuk wanita yang baik bukan hanya berlaku pada awal pernikahan, tetapi di pertengahannya, penghujungnya malah sepanjang jalan menuju syurga!”
P/S
Nota hati: Pulang dari Kelantan hujung minggu lalu dengan badan yang sarat dengan keletihan. Namun hati dan fikiran sarat dengan iktibar dan pengajaran.
Berlegar di sekitar kuliah Hari Jumaat di bandar KB, mendengar. merasa dan melihat. Yang indah, bukan tanahnya, tetapi manusia yang menegakkan hukum Allah di atasnya.
Mungkin sesuatu yang kelihatan sederhana pada pandangan mata, tetapi sangat cantik bila dipandang dengan mata hati. Begitulah rasa hati… semoga kita semua kembali kepada Ilahi, kerana di sana ada keindahan yang hakiki dan abadi.
Berfikir tentang jodoh anak-anak, adalah satu cabaran yang dipenuhi pelbagai misteri. Ia sukar ditebak dan diduga. Namun, pesan saya cuma satu… untuk anak sendiri dan anak-anak di luar sana, ikutlah syariat, pasti selamat. Islam itu sejahtera. Tidak ada kebahagiaan tanpanya.
Ya, kesalahan dan kesilapan boleh berlaku - ada ampun, maaf dan taubat di situ. Namun mukmin sebenar tidak akan jatuh dalam lubang yang sama dua kali. Cukup hanya sekali… pertama, kerana kejahilan. Maka belajarlah. Kalau kedua, itu kerana kedegilan. Hubaya-hubaya, kekadang harga yang ditagih untuk ‘membetulkannya’ terlalu pedih dan menyakitkan.
Belajarlah melakukan yang benar dan betul buat pertama kali. Itu yang terbaik. Tetapi jika tidak, cubalah membetulkannya buat kali kedua, ketiga dan seterusnya. Jangan jemu untuk cuba melakukan yang terbaik, kerana kata bijak pandai: Kebaikan itu perlu dimulakan berkali-kali!